Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kubu Raya, Kalimantan Barat, telah berlangsung selama 63 hari yang penuh tantangan. Meskipun jumlah titik api telah berkurang secara signifikan dalam beberapa pekan terakhir, perjuangan para petugas pemadam kebakaran belum berakhir. Dalam upaya memadamkan api yang marak terjadi, mereka terpaksa berhadapan dengan berbagai kendala, terutama dalam hal akses dan sumber daya air. Dalam konteks ini, air menjadi elemen krusial yang menentukan keberhasilan mereka dalam memadamkan karhutla yang mengancam wilayah ini.
Perjuangan Tanpa Henti di Kubu Raya
Pada bulan Juli 2026, petugas pemadam kebakaran di Kubu Raya memulai misi mereka dalam menghadapi karhutla yang melanda. Kepala Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kubu Raya, Syarif Usmardan, menyatakan bahwa upaya pemadaman bukanlah hal yang mudah. Petugas bekerja tanpa henti, dari pagi hingga malam, untuk melawan api yang terus mengancam dari berbagai lokasi. Menurut Syarif, ada tiga masalah utama yang selalu menjadi tantangan: air, angin, dan akses menuju lokasi kebakaran.
Air: Musuh Utama dalam Pemadaman
Dari ketiga masalah tersebut, air menjadi tantangan yang paling signifikan. Dalam kondisi kemarau, sumber air di beberapa lokasi sangat sulit ditemukan. Terlebih lagi, ketika kebakaran terjadi di lahan gambut, situasi menjadi lebih rumit. Ketika gambut mengering, api tidak selalu terlihat jelas di permukaan, dan bisa menyebar lebih dalam melalui lapisan gambut. Oleh karena itu, petugas membutuhkan air dalam jumlah besar untuk memastikan bahwa titik kebakaran benar-benar padam.
Syarif menegaskan, “Yang pertama itu air. Air yang paling utama.” Keterbatasan air juga berdampak pada efektivitas pemadaman. Ia memperkirakan bahwa hanya sekitar 10 hingga 20 persen area yang terbakar dapat dipadamkan sepenuhnya. Untuk kebakaran kecil dengan luas setengah hektare atau kurang, di mana akses mudah, pemadaman dapat dilakukan lebih efektif. Namun, bagi kebakaran yang jauh dari jalanan dan dengan sumber air yang minim, prosesnya menjadi jauh lebih sulit.
Kondisi di Kalibandung
Di wilayah Kalibandung, petugas menghadapi kombinasi tantangan yang berat: akses yang terbatas, minimnya sumber air, serta kurangnya peralatan dan personel. Situasi ini menunjukkan betapa pentingnya memiliki strategi yang tepat dalam penanganan karhutla.
Angin dan Jarak Pandang: Penghalang Pemadaman
Selain air, angin juga menjadi salah satu faktor yang menghambat pemadaman kebakaran. Pergerakan angin dapat mempercepat penyebaran api, yang tentunya menyulitkan tim pemadam. Untuk menangani masalah ini, salah satu metode yang digunakan adalah water bombing, di mana pesawat dikerahkan untuk menjatuhkan air ke area kebakaran yang sulit dijangkau. Sayangnya, operasi ini tidak selalu dapat dilakukan karena kondisi jarak pandang yang buruk.
Syarif menjelaskan, “Kita gagal terbang karena jarak pandang di bawah satu kilometer.” Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah lokasi yang telah dijadwalkan untuk mendapatkan dukungan water bombing terpaksa ditunda karena kondisi tersebut. Bagi petugas di darat, kegagalan penerbangan ini berarti mereka harus kembali mengandalkan kemampuan untuk menanggulangi api secara langsung.
Akses: Kunci Keberhasilan Pemadaman
Akses menuju lokasi kebakaran juga menentukan seberapa cepat api bisa ditangani. Kebakaran yang terjadi dekat jalan atau permukiman relatif lebih mudah ditangani karena kendaraan dan personel dapat bergerak dengan cepat. Sebaliknya, titik api yang berada jauh di dalam kawasan yang sulit dijangkau membuat proses pemadaman menjadi lebih rumit. Dalam kasus Kalibandung, masalah yang dihadapi bukan hanya menemukan titik api, tetapi juga bagaimana membawa personel, peralatan, dan air menuju lokasi tersebut.
Semakin jauh lokasi dari sumber air dan akses transportasi, semakin besar waktu dan sumber daya yang diperlukan untuk memadamkan api. Oleh karena itu, strategi pemadaman harus mengintegrasikan berbagai metode. Tim di darat akan terus bergerak, sementara dukungan udara akan digunakan ketika kondisi memungkinkan. Pemerintah juga telah melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan yang dapat membantu memadamkan api.
Penurunan Jumlah Titik Api: Hasil Kerja Keras Tim
Setelah 63 hari berjuang, hasil dari upaya tersebut mulai terlihat. Syarif melaporkan bahwa jumlah klaster titik api yang terbakar telah menurun drastis. “Grafiknya kecil-kecil. Kemarin angkanya hampir seribuan titik. Sekarang sudah hanya menyentuh 27 saja, 27 titik kluster yang terbakar,” ujarnya. Penurunan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kerja keras tim di lapangan, operasi modifikasi cuaca, dan hujan yang turun secara alami.
Namun, penting untuk dicatat bahwa berkurangnya titik api tidak berarti bahwa masalah karhutla telah sepenuhnya teratasi. Selama lahan tetap kering, terutama di kawasan gambut, potensi kebakaran untuk muncul kembali tetap ada. Oleh karena itu, pekerjaan petugas tidak hanya berhenti pada pemadaman api yang terlihat. Mereka juga harus terus memantau kondisi lingkungan yang memungkinkan kebakaran kembali terjadi.
Ritme Pekerjaan yang Tak Pernah Berhenti
Selama 63 hari, pola kerja petugas pemadam kebakaran cenderung tetap sama. Mereka terus mencari titik api, menuju lokasi, mencari sumber air, memadamkan api, dan memantau kembali kawasan yang telah ditangani. Tentu saja, tidak semua api dapat dipadamkan dalam satu kali pemadaman. Ada lokasi yang bisa ditangani dengan cepat, tetapi ada juga kawasan yang membutuhkan waktu lebih lama karena akses yang sulit, kurangnya air, dan kondisi cuaca yang tidak mendukung.
Meskipun jumlah titik api telah menyusut dari lebih dari seribu menjadi sekitar 27 klaster, bagi petugas, angka ini bukanlah akhir dari perjuangan. Selama lahan masih kering dan sumber air terus berkurang, api dapat kembali muncul sebagai ancaman. Oleh karena itu, penanganan karhutla di Kubu Raya terus berlanjut, seiring dengan upaya pemerintah untuk mempertahankan status darurat bencana akibat karhutla.
Di Kubu Raya, pertempuran melawan karhutla bukan sekadar tentang memadamkan api, tetapi juga mengenai siapa yang akan menyerah lebih dulu: apakah api yang kehilangan bahan bakar, atau petugas yang kehabisan air, tenaga, dan akses untuk mengejar api tersebut.
➡️ Baca Juga: Pemprov Banten Kirim 21 Petani Milenial Magang ke Jepang untuk Tingkatkan Teknologi Pertanian
➡️ Baca Juga: Aplikasi Viral Efektif untuk Mengatur Anggaran Bulanan Pribadi dengan Disiplin dan Konsisten
