slot depo 10k slot depo 10k
Megapolitan

ITF Sunter Akan Diaktifkan Kembali, JPS Peringatkan Pemprov DKI Tentang Risiko Lingkungan

Jakarta menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah yang terus meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi dan urbanisasi. Dalam konteks ini, Jakarta Public Service (JPS) mengingatkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk melakukan kajian yang lebih mendalam sebelum melanjutkan operasional Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter, yang direncanakan akan berfungsi sebagai fasilitas pengolahan sampah menjadi energi. Kajiannya harus mencakup berbagai aspek penting agar tidak muncul masalah baru di kemudian hari.

Pentingnya Kajian Mendalam Sebelum Operasional ITF Sunter

Direktur Eksekutif JPS, M. Syaiful Jihad, menekankan bahwa kajian yang komprehensif sangat diperlukan. Hal ini mencakup aspek lingkungan, teknologi, kesehatan masyarakat, dan pengelolaan residu agar fasilitas tersebut berfungsi secara optimal tanpa menimbulkan masalah baru bagi lingkungan sekitar.

“Pemprov DKI Jakarta harus melaksanakan kajian yang mendalam sebelum fasilitas WTE dioperasikan, khususnya terkait dengan isu lingkungan, teknologi yang digunakan, kesehatan masyarakat, serta pengelolaan sampah yang dihasilkan,” jelas Syaiful.

Mengambil Pelajaran dari Pengalaman Sebelumnya

Pengoperasian RDF Plant Rorotan menjadi contoh penting yang perlu dievaluasi. Keluhan masyarakat dan masalah lingkungan di sekitar fasilitas tersebut menunjukkan bahwa langkah-langkah pengendalian dampak lingkungan harus dimasukkan dalam rencana sejak tahap awal.

  • Pengalaman di RDF Plant Rorotan menunjukkan pentingnya perencanaan.
  • Keluhan masyarakat harus menjadi perhatian utama dalam setiap proyek besar.
  • Pengendalian dampak lingkungan harus dilakukan secara proaktif.
  • Rencana harus mencakup semua aspek yang relevan.
  • Analisis dampak lingkungan harus transparan dan komprehensif.

“Kita tidak ingin memiliki fasilitas pengolahan sampah yang justru menyebabkan masalah baru di lingkungan. Oleh karena itu, analisis mengenai dampak lingkungan harus dilakukan secara menyeluruh,” tambahnya.

Aspek-aspek yang Harus Diperhatikan dalam Kajian

Syaiful menegaskan bahwa kajian ITF Sunter tidak cukup hanya berfokus pada kapasitas pengolahan dan potensi produksi listrik. Pemerintah juga perlu mempertimbangkan dampak terhadap berbagai faktor, seperti kualitas udara, pencemaran air, tanah, serta kondisi sosial masyarakat yang tinggal di sekitar fasilitas tersebut.

“Fasilitas ini dirancang untuk mengolah hingga 2.200 ton sampah per hari dengan teknologi WTE, yang diharapkan dapat mengurangi volume sampah lebih dari 80 persen dan menghasilkan listrik hingga 35 megawatt (MW),” ungkap Syaiful. Biaya investasi untuk pembangunan fasilitas ini diperkirakan mencapai Rp5,3 triliun.

Potensi ITF Sunter dalam Mengatasi Masalah Sampah Jakarta

Dengan kapasitas yang dimiliki, ITF Sunter dapat mengatasi sekitar 27-29 persen dari total timbulan sampah di Jakarta, yang mencapai antara 7.700 hingga 8.000 ton per hari. “Ini berarti fasilitas ini berpotensi memberikan kontribusi signifikan dalam mengurangi beban pengelolaan sampah, meskipun tidak bisa dijadikan solusi tunggal,” kata Syaiful.

Ia juga menekankan bahwa pembangunan fasilitas pengolahan sampah harus sejalan dengan kebijakan untuk mengurangi dan memilah sampah dari sumbernya. Penggunaan teknologi pengolahan tidak boleh mengesampingkan upaya untuk mengurangi timbulan sampah di tingkat rumah tangga.

Dukungan Terhadap Rencana Gubernur DKI Jakarta

Syaiful menyambut positif rencana Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, untuk merealisasikan fasilitas WTE. Mengingat volume sampah di Jakarta yang terus menjadi masalah, diperlukan langkah-langkah inovatif untuk mengatasinya.

Berdasarkan data dari Pemprov DKI Jakarta, timbulan sampah di Jakarta mencapai sekitar 7.700 hingga 8.000 ton per hari, sementara timbunan sampah di TPST Bantar Gebang sudah mencapai sekitar 55 juta ton. “Kondisi ini memerlukan penanganan yang lebih komprehensif di luar sekadar pembuangan ke tempat pemrosesan akhir,” tegasnya.

Prinsip Kehati-hatian dan Transparansi

Oleh karena itu, Syaiful berharap bahwa pengaktifan kembali ITF Sunter dilakukan dengan mengikuti prinsip kehati-hatian dan transparansi. Penting bagi Pemprov DKI Jakarta untuk melibatkan masyarakat dalam proses ini, serta memastikan bahwa semua standar lingkungan dan pengendalian emisi terpenuhi sebelum fasilitas mulai beroperasi.

Dengan pendekatan yang tepat dan melibatkan semua pihak terkait, diharapkan ITF Sunter dapat menjadi solusi yang efektif dalam mengatasi masalah sampah di Jakarta, tanpa menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

➡️ Baca Juga: Persija Jakarta Bergerak Cepat di Bursa Transfer, Ternyata Begini Alasan di Baliknya

➡️ Baca Juga: Kemampuan Komunikasi sebagai Faktor Utama Kesuksesan Menurut Rektor US

Related Articles

Back to top button