Akamai Mencatatkan Peningkatan Investasi AI di Wilayah Asia Pasifik yang Signifikan

Jakarta – Perusahaan-perusahaan di wilayah Asia Pasifik semakin mengubah perspektif mereka terhadap investasi di bidang kecerdasan buatan (AI). Infrastruktur AI tidak lagi dianggap semata-mata sebagai kebutuhan teknis bagi departemen IT, tetapi telah menjadi bagian integral dalam strategi perusahaan hingga tingkat eksekutif. Pergeseran ini terlihat dari perubahan alokasi anggaran untuk AI, di mana perusahaan mulai mengalihkan dana dari tahap proyek percobaan dan bukti konsep menuju implementasi AI dalam skala penuh. Di saat yang bersamaan, tuntutan untuk hasil bisnis yang terukur dari investasi AI semakin meningkat. Menurut Sean Li, Managing Director Akamai Asia Pasifik, “Kami menyaksikan lebih banyak perusahaan yang mengalokasikan anggaran signifikan untuk proyek AI yang langsung diterapkan dalam lingkungan produksi. Ini menunjukkan adanya pengawasan yang lebih ketat.”
Transformasi Tujuan Investasi AI
Perubahan berikutnya terlihat dalam tujuan perusahaan dalam memanfaatkan AI. Teknologi ini mulai digunakan tidak hanya untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas, tetapi juga untuk menciptakan model bisnis baru dan sumber pertumbuhan. Sean Li memberikan contoh dari industri game, di mana salah satu klien Akamai menggunakan teknologi AI untuk menciptakan karakter virtual atau non-player character (NPC) yang bertujuan untuk memperpanjang interaksi antara pemain dan game. Di sektor e-commerce, pelanggan Akamai juga memanfaatkan AI berbasis foto selfie untuk memberikan rekomendasi gaya kepada konsumen, yang tidak hanya meningkatkan pengalaman berbelanja tetapi juga mendorong transaksi.
Pergeseran ini menunjukkan bahwa perusahaan mulai melihat AI sebagai komponen vital dalam strategi pertumbuhan mereka. Fokus kini tidak hanya pada cara AI dapat mempercepat pekerjaan, tetapi juga pada bagaimana teknologi ini dapat menciptakan pengalaman baru bagi pelanggan dan membuka peluang bisnis yang lebih luas.
Perubahan dalam Infrastruktur AI
Seiring dengan meningkatnya skala penerapan AI, kebutuhan akan infrastruktur pendukung juga mengalami perubahan. Sistem AI yang digunakan dalam lingkungan produksi memerlukan fondasi teknologi yang dapat menjamin keamanan, tata kelola, keandalan, dan keberlanjutan sepanjang siklus penggunaannya. Akamai mencatat bahwa investasi jangka panjang dalam infrastruktur tidak hanya terkait dengan pemilihan model AI atau penentuan bagian bisnis yang akan mengadopsi teknologi tersebut. Perusahaan harus mempertimbangkan kemampuan infrastruktur dalam mendukung seluruh siklus hidup AI.
Aspek-aspek seperti keamanan, tata kelola, keandalan, dan keberlanjutan kini menjadi faktor krusial dalam pengambilan keputusan investasi. Pergeseran ini juga mencerminkan meningkatnya posisi AI dalam struktur organisasi. Diskusi mengenai infrastruktur dan penerapan AI perlahan-lahan bergeser dari ranah teknis ke pengambilan keputusan yang lebih strategis di tingkat manajemen.
Reorganisasi dan Penunjukan Posisi Strategis
Akamai mencatat sejumlah perubahan yang berkontribusi pada transformasi infrastruktur AI. Salah satunya adalah peralihan dari sistem pendukung berbasis co-pilot ke kemampuan otonom. Selain itu, kebutuhan komputasi juga meningkat seiring dengan semakin seringnya sistem AI digunakan. Beberapa perusahaan mulai melakukan reorganisasi dan menunjuk Chief AI Officer yang langsung melapor kepada CEO, menunjukkan bahwa AI kini mempengaruhi struktur organisasi dan kebutuhan teknologi perusahaan.
Infrastruktur harus mampu beradaptasi dengan beban kerja AI yang semakin besar dan kompleks. Keterbatasan infrastruktur IT tradisional semakin terungkap dengan meningkatnya penggunaan AI. Sean Li menjelaskan bahwa kebutuhan akan infrastruktur terdistribusi telah ada selama bertahun-tahun, tetapi beban kerja AI meningkatkan risiko yang harus dihadapi.
Keterbatasan Infrastruktur IT Tradisional
Lingkungan IT tradisional tidak dirancang untuk memenuhi semua karakteristik beban kerja AI. Akibatnya, perusahaan harus menyesuaikan infrastruktur mereka agar mampu menangani kebutuhan komputasi dan operasional AI dalam skala yang lebih besar. Perubahan ini juga meningkatkan permintaan terhadap sistem terdistribusi. Saat AI digunakan untuk menjalankan berbagai proses secara berkelanjutan, perusahaan memerlukan infrastruktur yang mampu menempatkan komputasi dan model di lokasi yang sesuai dengan kebutuhan.
Akamai memperkuat kemitraan dengan NVIDIA untuk mendukung pendekatan ini. Jay Jenkins, CTO Cloud Computing Akamai, menjelaskan bahwa kolaborasi ini fokus pada konsep cloud terdistribusi, bukan sekadar hubungan antara pelanggan dan vendor GPU.
Kolaborasi Akamai dan NVIDIA dalam Pengembangan Infrastruktur
Dalam pengembangan infrastruktur terdistribusi, Akamai memanfaatkan berbagai teknologi dari NVIDIA. Jay Jenkins menyebut NVIDIA telah memperkenalkan AI Grid sebagai kerangka kerja untuk menerapkan AI secara terdistribusi di tingkat global. Akamai menjadi organisasi pertama yang menerapkan kerangka kerja ini, yang memungkinkan komputasi dan model AI dijalankan di lokasi sesuai dengan kebutuhan yang ada.
Akamai juga menghadirkan GPU NVIDIA Blackwell, termasuk RTX Pro 6000, ke dalam Akamai Cloud, yang dirancang untuk mendukung kebutuhan operasional dan post-training AI dalam skala besar. Selain itu, teknologi NVIDIA BlueField digunakan dalam produk segmentasi untuk mendukung orkestrasi yang lebih cerdas.
Investasi AI Mencapai Tahap Matang
Perkembangan ini menunjukkan bahwa investasi AI di Asia Pasifik telah memasuki tahap yang lebih matang. Perusahaan tidak hanya fokus pada pengembangan model atau eksperimen teknologi, tetapi juga berupaya untuk memastikan bagaimana AI dapat diterapkan dalam lingkungan produksi dan memberikan dampak bisnis yang signifikan. Dengan meningkatnya kebutuhan akan komputasi, keamanan, tata kelola, dan keandalan, infrastruktur AI berpotensi menjadi bagian yang semakin penting dalam strategi perusahaan.
Perubahan posisi ini menyebabkan keputusan mengenai infrastruktur tidak lagi menjadi tanggung jawab eksklusif departemen IT, tetapi mulai menjadi agenda di tingkat manajemen. Para pemimpin bisnis kini lebih menyadari pentingnya investasi yang efektif dalam AI, sehingga memicu langkah-langkah strategis untuk menciptakan ekosistem teknologi yang mendukung pertumbuhan di era digital.
➡️ Baca Juga: Starfield Merambah PS5 dengan Peluncuran DLC Cerita Kedua “Terran Armada”
➡️ Baca Juga: Indonesia Mulai Terapkan Biodiesel B50 pada Juli 2026, Simak Fakta-Faktanya




