slot depo 10k slot depo 10k
Rona

Anak Tantrum Saat Dilarang Memegang HP, Apa Tindakan Orangtua yang Tepat?

Jakarta – Ketika anak mengalami tantrum, sering kali penyebabnya adalah larangan untuk menggunakan gawai seperti ponsel. Sebagai orangtua, situasi ini dapat menjadi tantangan tersendiri. Anak yang terbiasa mengandalkan perangkat elektronik dalam kesehariannya berisiko menunjukkan reaksi emosional yang berlebihan saat akses mereka dibatasi. Apa yang seharusnya dilakukan orangtua dalam situasi seperti ini?

Pentingnya Menyadari Dampak Penggunaan Gawai pada Anak

Banyak anak yang menangis hingga tersedu-sedu ketika dilarang menggunakan gawai, menunjukkan adanya ketergantungan yang mulai terbangun sejak usia dini. Menurut Novi Poespita Candra, seorang pakar perkembangan anak dan remaja dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, solusi untuk mengurangi ketergantungan ini adalah dengan mengajak anak berpartisipasi dalam berbagai aktivitas yang melibatkan fisik. “Anak perlu terlibat dalam beragam kegiatan, mulai dari fisik, seni, hingga sosial,” ujarnya.

Aktivitas yang melibatkan gerakan fisik tidak hanya membantu mengalihkan perhatian anak dari gawai, tetapi juga mendukung perkembangan sosial serta interaksi mereka dengan lingkungan. Ini merupakan langkah penting bagi orangtua untuk tetap konsisten dalam pengasuhan dan tidak menjadikan gawai sebagai alat penenang anak, terutama saat mereka mengalami tantrum.

Peran Orangtua dalam Mengatasi Tantrum Anak

Orangtua memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk pola perilaku anak, terutama dalam penggunaan teknologi. Menurut Novi, perilaku anak sangat dipengaruhi oleh contoh yang diberikan oleh orangtuanya. “Anak belajar dengan meniru. Oleh karena itu, orangtua harus menjadi teladan dalam penggunaan gawai,” tegasnya. Ini termasuk tidak menggunakan ponsel saat berinteraksi dengan anak dan mengajak mereka melakukan berbagai aktivitas bersama.

Membangun Ketahanan Emosional Anak

Ketika anak mulai menunjukkan tanda-tanda tantrum, penting bagi orangtua untuk tetap tenang dan tidak terbawa emosi. Berikut adalah beberapa tips untuk membantu orangtua dalam menangani situasi ini:

  • Berikan alternatif kegiatan menarik yang tidak melibatkan gawai.
  • Libatkan anak dalam kegiatan keluarga seperti memasak atau berkebun.
  • Ciptakan rutinitas tanpa gawai yang dapat dinikmati bersama.
  • Ajarkan anak untuk mengekspresikan perasaan mereka dengan cara yang lebih positif.
  • Berikan pujian ketika anak berhasil mengalihkan perhatian dari gawai.

Dengan melakukan ini, orangtua dapat membantu anak membangun ketahanan emosional yang lebih baik dan mengurangi ketergantungan pada perangkat elektronik.

Regulasi Pemerintah tentang Penggunaan Gawai untuk Anak

Pemerintah Indonesia juga telah mengeluarkan regulasi terkait batasan penggunaan gawai bagi anak melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025. Aturan ini, yang mulai berlaku pada 28 Maret 2026, menyarankan agar anak tidak diperkenalkan pada gadget sebelum usia 13 tahun. “Jika anak sudah terlanjur mengenal gawai, penting untuk mengatur penggunaannya,” ungkap Novi.

Regulasi ini bertujuan untuk melindungi anak-anak dari dampak negatif yang mungkin timbul akibat penggunaan gawai yang tidak terkontrol. Dengan adanya batasan ini, diharapkan orangtua lebih sadar akan pentingnya menjaga keseimbangan dalam penggunaan teknologi.

Literasi Digital sebagai Penunjang Kesehatan Mental Anak

Pendeta Gomar Gultom, seorang tokoh agama Kristen, menambahkan bahwa implementasi regulasi ini perlu disertai dengan penguatan literasi digital serta peran aktif keluarga. “Literasi digital dan keterlibatan keluarga sangat penting untuk melindungi anak-anak dari dampak negatif media sosial yang semakin meluas,” jelasnya. Pendeta Gomar menekankan bahwa pendidikan tentang penggunaan media sosial yang bijak dapat membantu mengurangi risiko yang dihadapi anak-anak saat berselancar di dunia digital.

Peran Keluarga dalam Membangun Literasi Digital

Peran keluarga dalam mendidik anak tentang literasi digital sangat krusial. Berikut adalah beberapa cara keluarga dapat berkontribusi:

  • Mengajarkan anak tentang batasan waktu penggunaan gawai.
  • Diskusikan konten yang aman dan tidak aman di internet.
  • Libatkan anak dalam percakapan tentang pengalaman mereka di media sosial.
  • Panduan tentang etika berkomunikasi dan berinteraksi di dunia digital.
  • Memberikan contoh positif dalam menggunakan teknologi.

Dengan membekali anak dengan pengetahuan yang tepat, diharapkan mereka dapat menggunakan teknologi dengan bijak dan bertanggung jawab.

Menghadapi Tantangan di Era Digital

Di era digital saat ini, tantangan yang dihadapi anak-anak, seperti bullying dan kekerasan online, semakin meningkat. Pendeta Gomar mengungkapkan keprihatinan terhadap fenomena ini, yang dapat berdampak pada kesehatan mental anak. “Saya melihat banyak kasus bullying dan kekerasan di media sosial yang dapat menyebabkan kecemasan dan trauma bagi anak-anak,” ujar Gomar.

Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk terus memantau aktivitas anak di dunia maya dan memberikan dukungan emosional yang mereka butuhkan. Dengan pendekatan yang tepat, orangtua dapat membantu anak-anak mereka menavigasi tantangan yang muncul di dunia digital dengan lebih baik.

Membangun Hubungan yang Sehat dengan Teknologi

Penting bagi orangtua untuk membangun hubungan yang sehat antara anak dan teknologi. Ini dapat dilakukan dengan cara:

  • Menetapkan batasan waktu yang jelas untuk penggunaan gawai.
  • Mendorong anak untuk berpartisipasi dalam aktivitas luar ruangan.
  • Melibatkan anak dalam diskusi mengenai manfaat dan risiko teknologi.
  • Menjaga komunikasi terbuka mengenai pengalaman anak di dunia digital.
  • Memberikan contoh perilaku positif dalam menggunakan teknologi.

Dengan pendekatan yang baik, orangtua dapat membantu anak-anak mereka mengembangkan sikap yang seimbang terhadap gawai dan teknologi secara umum.

Ketika anak tantrum karena dilarang menggunakan gawai, ini bukan hanya masalah perilaku, tetapi juga menandakan adanya ketergantungan. Dengan pemahaman yang baik serta pendekatan yang tepat, orangtua dapat membantu anak belajar mengelola emosi dan mengurangi ketergantungan pada teknologi. Ini adalah langkah penting untuk mendukung perkembangan mereka di era digital yang penuh tantangan ini.

➡️ Baca Juga: Tips Perawatan Mobil Hybrid, Masih Perlu Dipanaskan atau Tidak?

➡️ Baca Juga: Daftar Kesalahan Umum Pemula Saat Latihan Gym Yang Harus Segera Anda Hindari

Related Articles

Back to top button