Bene Dion Tampilkan Pesona Pariwisata Sumatra Utara dalam Film Musikal “Pulang Kampung

Jakarta – Dalam upaya memperkenalkan keindahan alam serta kekayaan budaya yang dimiliki Sumatra Utara, sutradara Bene Dion Rajagukguk menghadirkan film musikal terbaru berjudul “Pulang Kampung”. Film ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga sebuah representasi yang kuat dari potensi pariwisata Sumatra Utara yang kaya dan beragam.
Keindahan Destinasi Wisata yang Diabadikan dalam Film
Proses pengambilan gambar untuk “Pulang Kampung” dilakukan di sejumlah lokasi wisata ikonik yang menampilkan budaya Batak yang mendalam. Setiap sudut lokasi yang dipilih berfungsi untuk menggambarkan keindahan alam dan budaya lokal secara visual yang menawan.
“Kami ingin memperlihatkan pariwisata dan keindahan Sumatra Utara melalui rangkaian adegan medley ini,” ungkap Bene Dion Rajagukguk saat konferensi pers peluncuran cuplikan film di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, pada Rabu (7/10). Pernyataan ini menunjukkan komitmen tim produksi untuk menampilkan kekayaan budaya dan keindahan alam yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan.
Proses Produksi yang Teliti
Produser Ernest Prakasa mengungkapkan bahwa total durasi pengambilan gambar film ini berlangsung selama 26 hari. Dari waktu tersebut, 21 hari dihabiskan di Sumatra Utara dan lima hari di Jakarta. Khusus untuk adegan medley, pengambilan gambar memakan waktu selama empat hari.
Menjaga Otentisitas Lokasi
Dalam upaya menjaga keaslian lokasi wisata, produser Dipa Andika menjelaskan bahwa tim produksi memilih untuk tidak menggunakan pemeran figuran yang sama di lokasi yang berbeda. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan kesesuaian demografi di setiap lokasi syuting, sehingga memberikan pengalaman yang lebih otentik.
Perekrutan pemeran figuran dilakukan dengan mempertimbangkan kebiasaan dan profil usia masyarakat setempat. Misalnya, saat berada di area lapo, tim produksi merekrut kelompok bapak-bapak dari komunitas lokal. Ini merupakan upaya untuk menciptakan representasi yang lebih akurat terhadap masyarakat di sekitar.
Variasi Demografi dalam Pemilihan Pemeran
Di lokasi lain yang didominasi oleh perempuan, tim produksi memilih untuk melibatkan kelompok ibu-ibu berusia antara 30 hingga 60 tahun, serta anak muda di lokasi seperti Danau Toba dan area wisata air mancur. Strategi ini memastikan bahwa setiap lokasi memiliki karakteristik demografis yang sesuai dengan realitas masyarakat setempat.
Dipa Andika menambahkan, “Jika Bene melihat, ‘Oh di sini biasanya dominasi ibu-ibu. Di sini kita pindah ibu-ibu, tapi umurnya mungkin 30 sampai 40 tahun, di sana 50 tahun, di tempat lain 60 tahun.’ Oleh karena itu, di setiap lokasi kami tidak menggunakan ‘extras’ yang sama.” Hal ini menciptakan nuansa autentik yang sangat diperlukan dalam sebuah film yang mengangkat tema budaya.
Penggambaran Musik Tradisional Sumatra Utara
Komposer Viky Sianipar bertanggung jawab atas aransemen lagu medley yang mencakup musik tradisi dari berbagai etnis di Sumatra Utara, seperti Batak Toba, Karo, Simalungun, dan Pakpak. Melalui musik, film ini berusaha untuk menyampaikan pesan yang lebih dalam mengenai keragaman budaya yang ada.
Viky menjelaskan bahwa komposisi musik didominasi oleh elemen Batak Toba, yang menyumbang sekitar 80 persen dari keseluruhan aransemen. Sementara itu, unsur etnis lainnya disisipkan dalam struktur medley yang ada, memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang kekayaan musik lokal.
Standar Internasional dalam Produksi
Dalam proses kreatif ini, Viky memperkirakan bahwa pembuatan film musikal dengan kualitas setara film pemenang Oscar seperti “La La Land” dapat mengharuskan “Pulang Kampung” untuk mengalokasikan dana tiga kali lipat dari film-film lain yang biasa mereka produksi. “Bisa tiga kali film biasa,” katanya, menunjukkan ambisi untuk menghadirkan sebuah karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga berkualitas tinggi.
Jadwal Tayang yang Dinanti
Film musikal “Pulang Kampung” yang menyajikan total sembilan lagu ini dijadwalkan untuk tayang serentak di seluruh jaringan bioskop Indonesia pada 26 November 2026. Dengan kombinasi keindahan pemandangan, kekayaan budaya, dan musik tradisional, film ini diharapkan dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton dan berkontribusi terhadap promosi pariwisata Sumatra Utara.
Dampak Positif bagi Pariwisata Sumatra Utara
Pembuat film memiliki peran penting dalam membentuk persepsi masyarakat tentang suatu daerah. Dengan menyoroti pariwisata Sumatra Utara, “Pulang Kampung” berpotensi untuk menarik perhatian wisatawan domestik dan internasional. Ini bisa meningkatkan minat untuk mengunjungi berbagai destinasi yang ditampilkan dalam film.
- Keindahan dan keragaman alam Sumatra Utara.
- Kekayaan budaya Batak yang dieksplorasi melalui musik.
- Lokasi syuting yang autentik dan representatif.
- Penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat lokal.
- Peningkatan kesadaran akan potensi lokal di kancah internasional.
Dengan pendekatan yang cermat dan kolaboratif, tim produksi berharap film ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi jembatan untuk mengenalkan kekayaan pariwisata Sumatra Utara kepada dunia. Kesuksesan film ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi proyek-proyek serupa di masa depan, yang akan terus mengangkat citra Indonesia sebagai destinasi wisata yang menarik.
➡️ Baca Juga: Dorong Wisata Gastronomi Padang untuk Mencapai Status Kota Kreatif UNESCO
➡️ Baca Juga: Manchester City Semakin Dekat Meraih Gelar, Arsenal Kehilangan Konsistensi dalam Pertandingan



