Hotel Paling Laris di Tiga Provinsi dengan Okupansi Tertinggi Menurut BPS Juli

Jakarta – Peningkatan tingkat okupansi hotel di Indonesia menjadi sinyal yang menggembirakan bagi sektor pariwisata yang tengah berupaya pulih pasca pandemi. Keberhasilan dalam mengisi kamar hotel mencerminkan adanya pergerakan wisatawan dan aktivitas ekonomi yang semakin meningkat di berbagai destinasi wisata.

Namun, peningkatan okupansi ini harus diimbangi dengan peningkatan mutu pelayanan serta penguatan daya tarik dari setiap destinasi. Dengan demikian, lonjakan okupansi tidak hanya menjadi fenomena sementara, tetapi juga dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi pelaku industri dan masyarakat sekitar.

Data Okupansi Hotel di Tiga Provinsi

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa Provinsi Bali, Banten, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat tingkat penghunian kamar (TPK) tertinggi untuk hotel berkelas bintang pada bulan Juli 2026. Data ini menunjukkan kebangkitan sektor pariwisata di daerah-daerah tersebut.

Rincian data okupansi menunjukkan bahwa TPK hotel bintang di Bali mencapai 67,29 persen, diikuti oleh Banten dengan 58,89 persen, dan DIY yang mencatat 58,51 persen. Angka-angka ini menandakan bahwa ketiga provinsi tersebut menjadi tujuan favorit bagi wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Faktor Pendorong Kenaikan Okupansi

“Kenaikan TPK ini terutama didorong oleh meningkatnya mobilitas wisatawan domestik serta tingginya permintaan akomodasi selama libur sekolah,” ungkap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam sebuah konferensi pers di Jakarta pada 1 September.

Secara keseluruhan, tingkat penghunian hotel bintang pada Juli 2026 tercatat mencapai 54,55 persen, mencatatkan kenaikan sebesar 0,26 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan meningkat 1,75 persen dibandingkan tahun lalu. Kenaikan ini menandakan bahwa pariwisata di Indonesia mulai pulih dan kembali menarik perhatian wisatawan.

Pengaruh Kegiatan Lokal dan Internasional

Selain faktor mobilitas, beberapa acara lokal dan internasional yang digelar di berbagai daerah seperti Sulawesi Utara, Jawa Barat, DKI Jakarta, Bali, dan Jawa Tengah juga berkontribusi terhadap peningkatan tingkat okupansi hotel. Kegiatan-kegiatan ini menarik banyak pengunjung, yang secara langsung meningkatkan permintaan akomodasi di wilayah tersebut.

Di sisi lain, provinsi dengan tingkat okupansi hotel berkelas bintang terendah pada bulan yang sama adalah Papua Pegunungan (18,33 persen), Maluku (27,18 persen), dan Aceh (29,04 persen). Angka-angka ini menunjukkan bahwa masih ada tantangan yang harus dihadapi dalam meningkatkan daya tarik wisata di daerah-daerah tersebut.

Tren Pertumbuhan Bulanan dan Provinsi dengan Peningkatan Tertinggi

Dari segi pertumbuhan bulanan, TPK hotel bintang pada Juli 2026 mengalami kenaikan sebesar 0,26 persen jika dibandingkan dengan Juni 2026. Provinsi Nusa Tenggara Barat mencatatkan peningkatan tertinggi dengan 6,68 persen, diikuti oleh Papua yang mengalami kenaikan 5,94 persen dan Nusa Tenggara Timur dengan 3,83 persen.

Sementara itu, Provinsi Gorontalo mengalami penurunan terdalam dengan angka 5,82 persen. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat tren positif di banyak provinsi, beberapa daerah masih berjuang untuk menarik wisatawan.

Peningkatan di Provinsi Lain

“Ada 14 provinsi yang mengalami peningkatan TPK hotel bintang pada Juli 2026 dibandingkan dengan bulan sebelumnya,” jelas Ateng. Hal ini menunjukkan bahwa pariwisata di Indonesia secara keseluruhan mengalami pemulihan yang signifikan.

Untuk hotel non-bintang dan akomodasi lainnya, TPK pada bulan yang sama tercatat sebesar 27,25 persen. Ini menunjukkan bahwa meskipun hotel bintang mendominasi, akomodasi non-bintang juga mulai menarik perhatian wisatawan.

Wilayah dengan TPK Tertinggi dan Terendah

Di antara akomodasi non-bintang, Bali mencatatkan TPK tertinggi dengan 42,53 persen, diikuti oleh DKI Jakarta yang mencapai 42,21 persen dan Kepulauan Riau dengan 39,79 persen. Sebaliknya, provinsi dengan TPK terendah dalam kategori ini adalah Papua Pegunungan yang hanya mencapai 7,78 persen.

Data ini menunjukkan bahwa Bali tetap menjadi magnet pariwisata di Indonesia, sementara beberapa daerah lainnya masih perlu meningkatkan daya tarik mereka untuk bisa bersaing di pasar pariwisata nasional.

Kesimpulan

Peningkatan tingkat okupansi hotel di Indonesia, khususnya di Bali, Banten, dan DIY, memberikan harapan akan pemulihan sektor pariwisata. Dengan adanya peningkatan mobilitas wisatawan dan berbagai kegiatan yang menarik, sektor ini diharapkan dapat terus berkembang. Namun, penting bagi semua pihak untuk menjaga kualitas layanan dan daya tarik destinasi agar pertumbuhan ini dapat berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal.

➡️ Baca Juga: Fakta Menarik tentang Mark Lee, Anggota NCT yang Memiliki Beragam Talenta

➡️ Baca Juga: Dinas Perpustakaan Mimika Rencanakan Pindah ke Gedung Baru pada Tahun 2027

Exit mobile version