kpkgg
Daerah

Kearifan Lokal Suku Badui: Tradisi Gotong Royong “Ngaseuk” Padi Huma Secara Serentak

Di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, ratusan petani dari Suku Badui telah memulai tradisi yang kaya akan nilai-nilai kearifan lokal mereka. Kegiatan menanam padi huma yang dikenal dengan istilah “ngaseuk” ini dilakukan secara serentak di ladang-ladang, sesuai dengan kalender adat yang telah ditetapkan. Tidak hanya sekedar aktivitas pertanian, ini juga merupakan langkah penting untuk memenuhi kebutuhan pangan dan meningkatkan pendapatan ekonomi komunitas mereka.

Tradisi “Ngaseuk” dan Gotong Royong dalam Pertanian

Ketua Adat Badui sekaligus Kepala Desa Kanekes, Jaro Oom, menyatakan harapannya agar padi huma yang ditanam dapat tumbuh subur dan siap untuk dipanen pada bulan April 2027. Kegiatan ini melibatkan sekitar 300 petani Badui yang bekerja sama dalam semangat gotong royong, yang merupakan salah satu nilai inti dalam budaya mereka.

Gotong royong dalam masyarakat Badui bukan hanya sekedar cara untuk menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga merupakan bentuk solidaritas dan saling bantu antar anggota komunitas. Dengan melaksanakan “ngaseuk” secara bersama-sama, mereka dapat menyelesaikan pekerjaan yang biasanya memakan waktu lama jika dilakukan sendiri.

Populasi dan Ketergantungan pada Pertanian

Menurut data terbaru, jumlah penduduk Suku Badui tercatat mencapai 11.620 jiwa, terdiri dari 5.870 laki-laki dan 5.570 perempuan. Sebagian besar masyarakat Badui mengandalkan kehidupan mereka pada sektor pertanian ladang. Selain padi huma, mereka juga menanam berbagai jenis tanaman lain, seperti pisang, jagung, dan berbagai sayuran, termasuk cabai serta tanaman keras seperti Albasia.

Praktik bertani yang dilakukan oleh Suku Badui sangat beragam. Dengan menerapkan sistem tumpang sari, mereka dapat menanam beberapa jenis tanaman dalam satu kawasan. Hal ini tidak hanya meningkatkan hasil pertanian, tetapi juga memberikan pendapatan ekonomi yang lebih besar karena berbagai tanaman tersebut memiliki waktu panen yang berbeda-beda.

Keberlanjutan Pertanian dan Kearifan Lokal

Jaro Oom menegaskan bahwa masyarakat Badui telah mewarisi tradisi pertanian ini dari nenek moyang mereka. Mereka tetap setia pada cara bercocok tanam yang ramah lingkungan, tanpa menggunakan pupuk kimia. Hal ini tidak hanya menjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga memastikan kualitas hasil pertanian yang mereka dapatkan.

Pada kesempatan ini, lahan yang digunakan untuk kegiatan ngaseuk ini mencapai satu hektare. Proses penanaman berlangsung cukup cepat, hanya dalam waktu sekitar empat jam. Ini menunjukkan efisiensi dan keterampilan yang dimiliki oleh para petani Badui dalam mengelola ladang mereka.

Waktu Penanaman dan Proses Pertumbuhan

Para petani biasanya melakukan penanaman padi di awal bulan Oktober ketika hujan mulai turun. Dengan cara ini, mereka dapat memastikan bahwa tanaman padi dapat tumbuh dengan baik dan subur. Jaro Oom berharap agar semua petani di komunitas dapat menyelesaikan kegiatan ngaseuk pada pertengahan Oktober 2026.

Arman, salah satu petani berusia 55 tahun, menjelaskan bahwa ia berpartisipasi dalam kegiatan ngaseuk dengan menggunakan batang kayu runcing untuk melubangi tanah. Teknik ini memudahkan mereka dalam menanam gabah. Ia mengungkapkan bahwa setelah seminggu, tanaman padi tersebut akan mulai tumbuh, dan dalam enam bulan ke depan, mereka sudah dapat melakukan panen.

Warisan Budaya dan Amanat Leluhur

Bagi Arman, bercocok tanam padi huma bukanlah hal baru. Ini adalah warisan dan amanat dari leluhur dan tetua adat yang telah diturunkan secara turun-temurun. Dengan tetap melestarikan tradisi ini, Suku Badui tidak hanya berkontribusi terhadap keberlanjutan pangan, tetapi juga menjaga nilai-nilai budaya yang menjadi identitas mereka.

Melalui pelaksanaan tradisi ngaseuk ini, Suku Badui menunjukkan bahwa kearifan lokal mereka sangat relevan dalam menghadapi tantangan di era modern. Mereka bisa menjadi contoh bagi komunitas lain dalam menjaga keseimbangan antara tradisi dan kebutuhan ekonomi.

Masyarakat yang Mandiri dan Berkelanjutan

Kegiatan pertanian yang dilakukan secara gotong royong ini mencerminkan semangat kemandirian masyarakat Badui. Mereka tidak hanya bergantung pada hasil pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, tetapi juga untuk meningkatkan ekonomi keluarga. Dengan demikian, pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana menjadi sangat penting bagi keberlangsungan hidup mereka.

  • Kemandirian dalam pertanian
  • Penggunaan teknik pertanian tradisional
  • Keberagaman tanaman untuk hasil maksimal
  • Penerapan nilai gotong royong
  • Pemeliharaan tradisi dan kearifan lokal

Setiap panen yang dihasilkan bukan hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga simbol dari perjuangan dan kerja keras yang dilakukan oleh masyarakat Badui. Ini adalah bagian dari identitas mereka, yang seharusnya dihargai dan dilestarikan oleh generasi mendatang.

Penutup: Melestarikan Kearifan Lokal Suku Badui

Tradisi “ngaseuk” yang dilaksanakan oleh Suku Badui merupakan contoh nyata bagaimana kearifan lokal dapat berkontribusi pada ketahanan pangan dan ekonomi. Dengan tetap mempertahankan cara-cara tradisional dalam bertani, mereka tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga menguatkan ikatan sosial di antara sesama anggota komunitas.

Melalui aktivitas ini, Suku Badui mengajarkan kita tentang pentingnya gotong royong, keberlanjutan, dan penghormatan terhadap alam. Kearifan lokal suku Badui bukan hanya sekedar tradisi, tetapi juga panduan untuk hidup harmonis dengan lingkungan dan sesama manusia.

➡️ Baca Juga: Kualitas Udara Palembang Mencapai Tingkat Sangat Tidak Sehat Akibat Kepungan Asap Pekat

➡️ Baca Juga: Dua Pelaku Pembunuhan di Eks Kampung Gajah Dihukum, Simak Putusan Hakim!

Related Articles

Back to top button