Hari Kartini telah menjadi lebih dari sekadar perayaan busana tradisional. Ini adalah kesempatan untuk melakukan refleksi mendalam terhadap perjuangan dalam mencapai akses pendidikan dan kesetaraan bagi perempuan di Indonesia. Di tengah kemajuan teknologi yang pesat, sosok-sosok inspiratif seperti Ory Mangiri dan Sherlita Ratna Dewi Agustin menunjukkan bahwa semangat Kartini tetap relevan dengan memanfaatkan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat. Dalam konteks ini, kita akan menggali lebih dalam bagaimana semangat Kartini di era AI berkontribusi pada transformasi digital, khususnya di Papua.
Menghadapi Tantangan di Papua: Kisah Ory Mangiri
Ory Mangiri adalah seorang guru ASN yang telah mengabdikan dirinya sejak 2010 di daerah terpencil Nduga, Papua Pegunungan. Wilayah ini pada saat itu masih minim infrastruktur, tanpa akses listrik maupun jaringan seluler. Tantangan yang dihadapi Ory tidak hanya dari segi infrastruktur, tetapi juga dari praktik pernikahan dini yang umum terjadi di kalangan anak-anak sekolah dasar. Dalam dua tahun pertamanya, Ory berfokus pada upaya edukasi bagi masyarakat, terutama kepada orang tua, untuk memberikan kesempatan bagi anak-anak mereka agar bisa menempuh pendidikan.
Berkat keteguhan dan komitmennya, Ory berhasil meyakinkan orang tua untuk memberi izin kepada anak-anak mereka bersekolah hingga setidaknya tingkat SMP. Kini, Ory menjabat sebagai guru bahasa Inggris di SD Inpres Kenyam, di mana ia memanfaatkan program Microsoft Elevate untuk memahami dan mengimplementasikan teknologi AI dalam proses pembelajaran. Meskipun masih menghadapi kendala listrik yang tidak stabil, Ory menggunakan Microsoft Copilot untuk merancang rencana pembelajaran yang inovatif, sehingga materi yang disampaikan menjadi lebih relevan dan menarik bagi siswa.
Dampak Positif dari Penggunaan AI
Melalui penerapan teknologi AI yang tepat, Ory berhasil meningkatkan kemandirian belajar dan rasa ingin tahu di kalangan siswa. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga keterampilan berpikir kritis yang diperlukan untuk menghadapi tantangan di masa depan. Atas dedikasinya yang luar biasa, Ory mendapatkan penghargaan sebagai Duta Teknologi Provinsi Papua Pegunungan 2024 dari Kementerian Pendidikan.
Transformasi Digital di Jawa Timur: Peran Sherlita Ratna Dewi Agustin
Di sisi lain, Sherlita Ratna Dewi Agustin, yang menjabat sebagai Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Timur, memainkan peran kunci dalam memimpin transformasi digital dari perspektif kebijakan publik. Sherlita berhadapan dengan sejumlah tantangan, termasuk kesenjangan akses internet yang berdampak pada perempuan dan rendahnya kepercayaan diri ASN dalam memanfaatkan teknologi baru.
Dalam rangka mengatasi masalah ini, Sherlita meluncurkan program GARUDA AI, yang bertujuan untuk menerapkan AI yang bertanggung jawab di sektor publik. Dengan memanfaatkan AI untuk analisis data besar, ia dapat merumuskan kebijakan yang lebih akurat dan mempercepat layanan publik. “AI adalah alat bantu, bukan pengganti. Teknologi ini membantu mempercepat tugas rutin sehingga ASN bisa lebih fokus pada kreativitas dan empati,” tegasnya.
Inisiatif Cerdig dan Peningkatan Literasi Digital
Sejak tahun 2025, inisiatif “Gerakan Cerdas Digital” (Cerdig) di Jawa Timur telah berhasil melatih lebih dari 1.100 ASN dalam literasi digital dan AI. Semangat untuk meningkatkan akses dan kemampuan teknologi ini didukung oleh tokoh-tokoh nasional, seperti Veronica Tan, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, yang menegaskan pentingnya akses setara sebagai kunci bagi perempuan untuk meraih impian mereka.
Membangun Keterampilan untuk Masa Depan
Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, juga menyoroti pentingnya pelatihan AI, termasuk penggunaan Microsoft Copilot, untuk meningkatkan daya saing UMKM dan ASN di daerah-daerah. Menurutnya, keterampilan digital yang kokoh akan membantu para pelaku usaha dan pegawai negeri sipil dalam menghadapi era digital yang terus berkembang.
Arief Suseno, AI Skills Director Microsoft Indonesia, menekankan bahwa di era AI, kepemimpinan yang visioner sangat penting untuk memastikan teknologi digunakan dengan tujuan yang jelas dan inklusif bagi semua pihak. Dengan demikian, kita dapat melihat bagaimana semangat Kartini di era AI bukan saja soal merayakan pencapaian perempuan, tetapi juga menyiapkan generasi mendatang untuk menghadapi tantangan global.
Kesempatan bagi Perempuan di Era Digital
Semangat Kartini yang diperjuangkan oleh Ory dan Sherlita membuka peluang baru bagi perempuan di seluruh Indonesia, khususnya di daerah terpencil seperti Papua. Dengan memanfaatkan teknologi, mereka tidak hanya mengatasi tantangan yang ada, tetapi juga memecahkan batasan-batasan tradisional yang menghalangi kemajuan perempuan.
Penggunaan teknologi AI dalam pendidikan dan administrasi publik menunjukkan bahwa perempuan dapat menjadi agen perubahan yang signifikan. Misalnya, Ory dengan AI telah mengubah cara siswa belajar, sementara Sherlita berupaya meningkatkan efisiensi layanan publik melalui kebijakan yang adaptif dan responsif.
Menjembatani Kesenjangan Digital
Namun, meskipun ada kemajuan, masih terdapat tantangan yang perlu dihadapi, terutama dalam hal akses teknologi yang merata. Kesenjangan digital antara gender dan daerah menjadi perhatian utama. Untuk mengatasi hal ini, dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk menyediakan infrastruktur yang memadai dan program pelatihan yang efektif.
- Penyediaan akses internet yang lebih luas dan terjangkau.
- Pendidikan dan pelatihan teknologi yang inklusif untuk seluruh lapisan masyarakat.
- Program pemenuhan kebutuhan dasar untuk mendukung pendidikan anak-anak.
- Inisiatif untuk memperkuat kepercayaan diri perempuan dalam menggunakan teknologi.
- Kemitraan antara sektor publik dan swasta untuk pengembangan kapasitas.
Menatap Masa Depan dengan Semangat Kartini
Semangat Kartini di era AI adalah tentang lebih dari sekadar teknologi; ini adalah tentang memberdayakan perempuan dan mendorong mereka untuk mengambil peran aktif dalam masyarakat. Ory dan Sherlita adalah contoh nyata bagaimana perempuan dapat beradaptasi, berinovasi, dan memimpin di tengah perubahan zaman.
Kisah mereka mengingatkan kita bahwa dengan tekad dan dukungan teknologi yang tepat, kita dapat mengubah tantangan menjadi peluang. Transformasi digital yang sedang berlangsung adalah kesempatan emas bagi perempuan Indonesia untuk menunjukkan potensi mereka yang sesungguhnya, melanjutkan perjuangan Kartini menuju kesetaraan dan keadilan.
➡️ Baca Juga: Donald Trump Unggah Foto Pelaku Penembakan di Acara White House Correspondents’ Dinner
➡️ Baca Juga: Kunjungan Wisatawan Lebaran ke Bandung Mencapai 700 Ribu, Target 1 Juta Terbuka Lebar
