Menyusuri Basilica Cistern, Waduk Raksasa Peninggalan Bizantium di Turki

<div>

Istanbul: Di bawah hiruk-pikuk kawasan tua Istanbul, <a href=”https://www.medcom.id/tag/28430/wisata-turki”>Turki</a> tersimpan sebuah mahakarya arsitektur yang telah bertahan lebih dari 14 abad. Basilica Cistern adalah reservoir air raksasa peninggalan Kekaisaran Bizantium yang kini menjadi salah satu destinasi wisata paling unik di kota tersebut.<br/> <br/>

<em>Medcom.id</em> berkesempatan melihat langsung bangunan bawah tanah yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan air bagi istana dan bangunan penting di kota. Perjalanan ini terselenggara dengan fasilitas dari AirAsia X dan Turkiye Tourism Promotion and Development Agency. <br/> <br/>

Dibanbun pada masa pemerintahan Kaisar Bizantium Justinian I sekitar tahun 542 M, nama “Basilica Cistern” berasal dari fakta bahwa di atas lokasi ini dahulu berdiri sebuah basilika besar. <br/><br/>

Menurut pemandu wisata dari Turkiye Tourism Promotion and Development Agency (TGA), Aret penduduk lokal menyebutnya Yerebatan Sarnıcı, yang berarti “cistern bawah tanah”.<br/> <br/>

“Nama tersebut merujuk pada deretan kolom marmer tinggi yang tampak seolah muncul dari dalam tanah,” jelas dia beberapa waktu lalu.

<h2>Arsitektur dan fungsi pada Masa Bizantium</h2>

<img alt=”Menyusuri Basilica Cistern, Waduk Raksasa Peninggalan Bizantium di Turki” src=”https://cdn.medcom.id/images/library/img/properti/2026/basilica%202.jpeg”/><br/>

<em><small>Basilica Cistern adalah reservoir air raksasa peninggalan Kekaisaran Bizantium. Foto: Medcom.id/Rizkie Fauzian</small></em><br/> <br/>

Struktur awal dibangun pada masa pemerintahan Constantine the Great, sebelum akhirnya diperluas dan disempurnakan oleh Kaisar Bizantium Justinian I pada abad ke-6, setelah kota mengalami kerusakan akibat Nika Riots pada tahun 532.<br/> <br/>

Cistern tersebut terletak sekitar 150 meter di barat daya Hagia Sophia, di kawasan bersejarah Sarayburnu. Bangunan ini memiliki luas sekitar 9.800 meter persegi dan mampu menampung hingga 100.000 ton air, menjadikannya fasilitas vital bagi kebutuhan air kota pada masa itu.<br/> <br/>

Untuk menjaga ketahanan terhadap air, dinding tangki dibuat sangat tebal, sekitar 4,8 meter, sementara lantainya dibangun dari batu bata yang dilapisi mortar debu bata yang padat. Di dalamnya terdapat 336 kolom marmer yang menopang atap lengkung.<br/>

<div>

<p><strong>Baca Juga :</strong></p>

<h3><a href=”https://www.medcom.id/properti/arsitektur/0KvZ799K-menyusuri-sejarah-galata-tower-penjaga-langit-istanbul”>Menyusuri Sejarah Galata Tower, Penjaga Langit Istanbul</a></h3>

</div>

<br/> <br/>

Menariknya, kepala kolom memiliki variasi gaya arsitektur klasik. Sekitar 98 kolom menggunakan gaya Korintus, sedangkan sisanya bergaya Dorian. Kombinasi ini menunjukkan bahwa sebagian kolom kemungkinan diambil dari bangunan Romawi yang lebih tua dan digunakan kembali dalam pembangunan cistern.<br/> <br/>

Pada masa Bizantium, reservoir ini menjadi sumber air utama bagi Istana Agung Konstantinopel serta kawasan pemukiman di sekitarnya. Menurut legenda, sekitar 7.000 budak dilibatkan dalam pembangunan waduk raksasa tersebut.

<h2>Digunakan hingga Era Ottoman</h2>

<img alt=”Menyusuri Basilica Cistern, Waduk Raksasa Peninggalan Bizantium di Turki” src=”https://cdn.medcom.id/images/library/img/properti/2026/basilika%204.jpeg”/><br/>

<em><small>Basilica Cistern adalah reservoir air raksasa peninggalan Kekaisaran Bizantium. Foto: Medcom.id/Rizkie Fauzian</small></em><br/> <br/>

Setelah Fall of Constantinople pada tahun 1453, waduk ini masih sempat digunakan untuk memasok air ke Topkapı Palace, tempat tinggal para sultan Ottoman. Namun, penggunaan cistern tidak berlangsung lama.<br/> <br/>

Pemerintah Ottoman kemudian membangun sistem air baru yang lebih mengandalkan aliran air segar, karena mereka lebih menyukai air yang mengalir dibandingkan air yang tergenang. Akibatnya, Basilica Cistern perlahan ditinggalkan.

<h2>Ditemukan kembali oleh peneliti Barat</h2>

<img alt=”Menyusuri Basilica Cistern, Waduk Raksasa Peninggalan Bizantium di Turki” src=”https://cdn.medcom.id/images/library/img/properti/2026/basilika%203.jpeg”/><br/>

<em><small>Basilica Cistern adalah reservoir air raksasa peninggalan Kekaisaran Bizantium. Foto: Medcom.id/Rizkie Fauzian</small></em><br/> <br/>

Keberadaan cistern ini kembali dikenal dunia Barat pada pertengahan abad ke-16 berkat peneliti asal Belanda, Petrus Gyllius. Ia melakukan penelitian terhadap peninggalan Bizantium di sekitar Hagia Sophia antara tahun 1544 hingga 1550.<br/> <br/>

Dalam catatannya, Gyllius menceritakan bagaimana ia menemukan pintu masuk ke waduk melalui tangga batu di halaman belakang sebuah rumah kayu. Saat memasuki ruang bawah tanah dengan obor di tangan, ia mendapati waduk raksasa yang dipenuhi kolom.<br/> <br/>

Penduduk setempat ternyata telah lama mengetahui keberadaan waduk ini. Mereka bahkan membuat lubang di lantai rumah untuk menimba air atau memancing dari dalam cistern.<br/> <br/>

Gyllius kemudian mengelilingi waduk menggunakan perahu kecil, mengukur dimensinya, serta mencatat jumlah kolom yang ada. Catatan perjalanan tersebut kemudian memperkenalkan Basilica Cistern kepada para pelancong Eropa.

<h2>Renovasi dari masa ke masa</h2>

<img alt=”Menyusuri Basilica Cistern, Waduk Raksasa Peninggalan Bizantium di Turki” src=”https://cdn.medcom.id/images/library/img/properti/2026/basilika%205.jpeg”/><br/>

<em><small>Basilica Cistern adalah reservoir air raksasa peninggalan Kekaisaran Bizantium. Foto: Medcom.id/Rizkie Fauzian</small></em><br/> <br/>

Sejak dibangun, Basilica Cistern telah mengalami beberapa kali pemugaran. Pada masa Ottoman, renovasi pertama dilakukan pada tahun 1723 oleh <a href=”https://www.medcom.id/tag/19185/arsitektur”>arsitek</a> Kayserili Mehmet Ağa pada masa pemerintahan Sultan Ahmed III. Renovasi berikutnya dilakukan pada era Sultan Abdulhamid II pada akhir abad ke-19.<br/> <br/>

Pada era Republik Turki, pemerintah kota Istanbul melakukan pembersihan besar-besaran pada tahun 1987 dan membangun jalur pejalan kaki sehingga cistern dapat dibuka untuk umum sebagai objek wisata. Pembersihan menyeluruh kembali dilakukan pada tahun 1994.<br/> <br/>

Setelah melalui renovasi besar, Basilica Cistern kembali dibuka pada tahun 2022. Kini, tempat ini tidak hanya menjadi situs sejarah, tetapi juga difungsikan sebagai ruang pamer seni modern yang kerap menjadi lokasi berbagai acara budaya.

<h2>Misteri Kepala Medusa</h2>

<img alt=”Menyusuri Basilica Cistern, Waduk Raksasa Peninggalan Bizantium di Turki” src=”https://cdn.medcom.id/images/library/img/properti/2026/basilica%201.jpeg”/><br/>

<em><small>Basilica Cistern adalah reservoir air raksasa peninggalan Kekaisaran Bizantium. Foto: Medcom.id/Rizkie Fauzian</small></em><br/> <br/>

Salah satu daya tarik paling terkenal adalah dua patung kepala Medusa yang digunakan sebagai alas kolom. Patung ini dipasang dalam posisi menyamping dan terbalik. Menurut legenda setempat, posisi tersebut dibuat untuk menangkal energi jahat.<br/> <br/>

Selain itu, terdapat pula Weeping Column atau “kolom menangis”. Pilar ini dihiasi ukiran menyerupai tetesan air yang konon dibuat untuk mengenang ribuan pekerja yang terlibat dalam pembangunan cistern.<br/> <br/>

Pantulan cahaya lampu pada riak air menciptakan efek visual yang memukau, menjadikan Basilica Cistern bukan sekadar situs sejarah, tetapi juga ruang artistik yang menghadirkan pengalaman berbeda bagi setiap pengunjung.<br/> <br/>

Bagi wisatawan yang ingin merasakan sisi lain Istanbul, menjelajahi Basilica Cistern seperti membuka pintu menuju masa lalu, sebuah dunia bawah tanah yang menyimpan kisah kejayaan peradaban Bizantium.

<h2>Harga tiket dan jam operasional</h2>

<img alt=”Menyusuri Basilica Cistern, Waduk Raksasa Peninggalan Bizantium di Turki” src=”https://cdn.medcom.id/images/library/img/properti/2026/basilika%206.jpeg”/><br/>

<em><small>Basilica Cistern adalah reservoir air raksasa peninggalan Kekaisaran Bizantium. Foto: Medcom.id/Rizkie Fauzian</small></em><br/> <br/>

Kini, ruang penyimpanan air kuno itu berubah menjadi destinasi wisata yang menawarkan pengalaman berbeda. Wisatawan dapat berjalan di atas jalur kayu sambil menyusuri lorong-lorong batu kuno, melewati ratusan pilar marmer dan lengkungan arsitektur yang masih terawat hingga sekarang.<br/> <br/>

Atmosfer di dalam cistern terasa dramatis. Pencahayaan temaram memantul di permukaan air dangkal, sementara suara tetesan air menciptakan gema yang menambah kesan misterius. Keindahan tempat ini bahkan pernah menarik perhatian industri film dan dijadikan lokasi pengambilan gambar salah satu film dari seri James Bond.<br/> <br/>

Sebagai salah satu objek wisata populer di Istanbul, Basilica Cistern dikunjungi ribuan wisatawan setiap hari. Karena itu, antrean panjang kerap terjadi terutama saat musim liburan musim panas.<br/> <br/>

Harga tiket masuk untuk warga Turki sekitar 90 Lira Turki, atau setara sekitar Rp35.000. Sementara bagi wisatawan internasional, tiket dibanderol sekitar 600 Lira Turki, setara sekitar Rp229.000 per orang.<br/> <br/>

Pengunjung dapat membeli tiket langsung di loket atau memesan secara daring untuk menghindari antrean panjang. Perlu diketahui, Istanbul Museum Pass tidak berlaku untuk memasuki Basilica Cistern sehingga wisatawan harus membeli tiket terpisah.<br/> <br/>

Tempat wisata ini umumnya buka dalam dua sesi waktu 09.00 – 18.30 dan 19.30 – 22.00. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pada musim semi (Maret–Mei) dan musim gugur (September–November) ketika cuaca lebih sejuk dan jumlah wisatawan tidak terlalu padat.<br/> <br/>

Jika kamu berencana untuk liburan ke Turki, AirAsia X melayani penerbangan langsung dari Kuala Lumpur (KUL) ke Istanbul (SAW) sebanyak empat kali seminggu menggunakan Airbus A330. Rute ini beroperasi mulai November 2025 dengan harga tiket terjangkau.<br/> <br/><strong>Cek Berita dan Artikel yang lain di

<a href=”https://news.google.com/publications/CAAqBwgKMO3SgQswosT9Ag?ceid=ID:id&amp;oc=3&amp;hl=id&amp;gl=ID\”>

<div>

<img src=”https://va.medcom.id/2024//default/images/gnews.svg”/>

</div>

<div>

Google News

</div>

</a></strong><div>(KIE)</div> </div>

➡️ Baca Juga: Persija Jakarta Bergerak Cepat di Bursa Transfer, Ternyata Begini Alasan di Baliknya

➡️ Baca Juga: Kesiapan Heeseung Eks ENHYPEN untuk Debut Solo: Profil dan Biodata Lengkap

Exit mobile version