slot depo 10k slot depo 10k
Pendidikan

Pakar IPB Jelaskan Mengapa Api di Lahan Gambut Sulit Dipadamkan dan Solusinya

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut, khususnya di Kalimantan, menjadi tantangan serius yang sulit ditangani. Berbeda dengan pemadaman api di lahan yang lebih konvensional, api di lahan gambut memiliki karakteristik unik yang membuatnya sulit untuk dipadamkan. Fenomena yang sering disebut sebagai ‘api zombie’ ini muncul ketika api tampak padam di permukaan, tetapi bara yang tersimpan di bawah tanah tetap menyala. Prof. Bambang Hero Saharjo, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan serta Kepala Pusat Studi Bencana di IPB University, mengungkapkan faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan dalam mengatasi kebakaran di lahan gambut serta solusi yang dapat diambil.

Karakteristik Lahan Gambut dan Kesulitan Pemadaman

Salah satu alasan utama di balik kesulitan pemadaman kebakaran di lahan gambut adalah sifat lahan itu sendiri. Lahan gambut memiliki kemampuan untuk menyimpan kelembapan, namun ketika kondisi menjadi kering, ia dapat berubah menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar. “Sulitnya pemadaman karhutla di Kalimantan berkaitan erat dengan karakteristik lahan gambut yang mudah mengering dan menyimpan bara di bawah permukaan,” ungkap Prof. Bambang. Hal ini menciptakan situasi di mana, meskipun api tampaknya sudah padam, bara yang tersembunyi dapat menyala kembali, terutama saat angin bertiup kencang atau saat terjadi kekeringan berkepanjangan.

Fenomena ‘Api Zombie’

Api di lahan gambut sering kali tidak terlihat di permukaan, tetapi bara yang ada di dalam tanah bisa bertahan lama. Ketika hujan tidak turun dalam waktu yang lama, atau saat angin kencang berhembus, bara ini dapat menyulut kembali api yang sulit dikendalikan. “Kondisi gambut yang mengering akan menjadi bahan bakar yang sangat efektif untuk terjadinya kebakaran yang berkesinambungan,” tambahnya. Dengan demikian, pemadam kebakaran harus siap menghadapi tantangan ini dengan strategi yang lebih cermat.

Krisis Air dan Tantangan Sumber Daya

Selain karakteristik lahan gambut, krisis air juga menjadi kendala besar dalam upaya pemadaman. Penurunan muka air gambut yang drastis, diperparah oleh fenomena El Niño dan kemarau berkepanjangan, membuat tim pemadam kesulitan menemukan sumber air yang cukup. “Sumber air alternatif seperti sumur bor dan kanal-kanal yang dibangun sebelumnya sering kali tidak berfungsi, sehingga pasokan air menjadi sangat terbatas,” jelas Prof. Bambang. Dalam situasi seperti ini, efektivitas pemadaman sangat bergantung pada jumlah personel yang terlibat, infrastruktur yang tersedia, serta pemahaman teknik pemadaman yang tepat.

Efektivitas Sistem Peringatan Dini

Sayangnya, sistem peringatan dini dan deteksi kebakaran juga sering kali belum berfungsi dengan baik. Hal ini berakibat pada potensi kebakaran yang semakin besar sebelum tim pemadam dapat merespons. Ketidakcukupan dalam sistem ini menunjukkan perlunya perhatian lebih dari semua pihak terkait untuk meningkatkan efektivitas dan responsivitas terhadap kebakaran di lahan gambut. “Penegakan hukum yang tegas sangat penting untuk memberikan efek jera dan mencegah terulangnya pembakaran di lahan gambut,” tegasnya.

Pentingnya Pencegahan Kebakaran

Upaya mitigasi kebakaran di lahan gambut harus dilakukan secara proaktif dan bukan hanya reaktif saat musim kemarau tiba. Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 71 Tahun 2014 yang mengatur batas tinggi muka air gambut agar tetap terjaga di level 40 cm untuk menjaga kelembapan tanah. “Pemantauan tinggi muka air, penguatan sistem peringatan dini, dan fokus pada pencegahan harus dilakukan dengan konsisten,” imbuh Prof. Bambang. Ini menjadi langkah penting untuk menghentikan siklus kebakaran yang berulang di lahan gambut.

Strategi untuk Mencegah Kebakaran

Beberapa langkah pencegahan yang dapat diambil untuk mengatasi api di lahan gambut antara lain:

  • Menjaga kelembapan lahan dengan melestarikan sistem hidrologi gambut.
  • Memperkuat program deteksi dini untuk mendeteksi potensi kebakaran lebih awal.
  • Melibatkan seluruh pemangku kepentingan dalam pengelolaan lahan gambut secara berkelanjutan.
  • Menerapkan hukum yang tegas terhadap pelanggaran yang berkaitan dengan pembakaran lahan.
  • Meningkatkan kapasitas tim pemadam dan sarana prasarana pemadaman kebakaran.

Menjaga lahan gambut tetap basah adalah kunci untuk mencegah kebakaran yang berkelanjutan. Semua elemen masyarakat, termasuk pemerintah, pelaku usaha, dan individu, harus berkomitmen untuk mematuhi aturan dan regulasi yang ada. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan upaya reaktif saat kebakaran terjadi, tetapi harus ada kesadaran dan tindakan preventif yang nyata,” kata Prof. Bambang. Dengan pendekatan yang holistik dan kolaboratif, potensi kebakaran di lahan gambut dapat diminimalkan, sehingga ekosistem yang berharga ini bisa dilindungi untuk generasi mendatang.

➡️ Baca Juga: Wakil Ketua Komisi VI DPR Konfirmasi Stok BBM Aman Berkat Sumber Minyak Baru Indonesia

➡️ Baca Juga: Paus Leo XIV Kecam “Delusi Omnipoten” yang Memicu Ketegangan Perang di Iran

Related Articles

Back to top button