kpkgg
Megapolitan

Pansus CSR/TJSL DPRD DKI Dukung Inovasi Fasilitas Pengolahan Sampah Biodigister Bank Jakarta di Rusunawa Rorotan

Jakarta – Panitia Khusus Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan (Pansus CSR/TJSL) DPRD Provinsi DKI Jakarta mengadakan kunjungan kerja yang bertujuan untuk mengevaluasi fasilitas pengolahan sampah organik berbasis biodigester komunal di Rusunawa Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, pada Senin (5/10). Kunjungan ini merupakan bentuk komitmen terhadap inovasi yang dapat mengubah sampah menjadi sumber energi biogas, sebuah langkah penting dalam pengelolaan limbah di daerah perkotaan yang padat.

Inovasi Pengolahan Sampah Organik

Ketua Pansus CSR/TJSL DPRD DKI Jakarta, Ghozi Zulazmi, memberikan dukungan penuh terhadap inovasi yang diterapkan Bank Jakarta dan mitranya dalam pengolahan sampah organik menggunakan biodigester. Menurutnya, langkah ini memiliki dampak yang signifikan bagi komunitas di lingkungan pemukiman yang padat penduduk.

“Sekitar 60 persen dari total sampah yang dihasilkan berasal dari limbah organik rumah tangga yang memerlukan metode pengolahan khusus. Dengan adanya biodigester ini, kami berharap sampah dapat diolah di lokasi dan menghasilkan energi terbarukan berupa biogas yang bisa digunakan oleh penghuni rusun untuk kebutuhan memasak,” ujar Ghozi.

Peninjauan Bersama Stakeholder

Dalam peninjauan tersebut, Ghozi juga didampingi oleh Kepala Pokja Pengembangan Ekonomi Sirkular Direktorat Pengurangan Sampah/Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK), Asep Setiawan, dan Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara, Edy Mulyanto. Kegiatan ini adalah bagian dari pengawasan legislasi terhadap program CSR/TJSL yang dilaksanakan oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Pansus juga berupaya untuk mendorong pembentukan Peraturan Daerah (Perda) yang lebih kuat mengenai CSR.

Ghozi menegaskan, “Pandangan umum mengenai CSR sering dianggap sebagai aksi sukarela atau hadiah dari perusahaan. Namun, sebenarnya, Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) merupakan kewajiban perusahaan, termasuk BUMD. Kami berharap inisiatif ini tidak hanya terbatas di Jakarta Utara, tetapi juga meluas ke Jakarta Selatan, Jakarta Barat, dan kawasan padat penduduk lainnya.”

Membangun Ekosistem Pengolahan Sampah Berkelanjutan

Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, menjelaskan bahwa program CSR yang dilakukan dalam pembangunan fasilitas biodigester ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk menciptakan ekosistem pengolahan sampah yang berkelanjutan di DKI Jakarta. Ini adalah langkah yang penting untuk memperkenalkan solusi pengelolaan limbah yang lebih ramah lingkungan.

Agus menambahkan, “Bagi Bank Jakarta, program lingkungan ini bukan sekadar instalasi fisik, melainkan upaya untuk membangun ekosistem pengelolaan sampah yang lebih dekat dengan masyarakat dan memberikan manfaat langsung. Pengolahan sampah menjadi energi terbarukan saat ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak bagi Jakarta.”

Spesifikasi Fasilitas Biodigester

Fasilitas biodigester yang dibangun di Rusunawa Rorotan dan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) di Kelurahan Rawa Badak Utara menggunakan teknologi digester biogas berbahan fiberglass. Fasilitas ini dilengkapi dengan mesin penghancur sampah organik yang mampu memproses hingga 250 kg per jam.

  • Pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 154,4 ton CO2e per tahun.
  • Produksi biogas yang dapat menggantikan LPG untuk memasak.
  • Pupuk organik cair sebanyak 400 hingga 450 liter per hari.
  • Pupuk padat dengan berat 50 hingga 100 kg per hari.

Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara, Edy Mulyanto, memberikan apresiasi atas kolaborasi yang sinergis antara Bank Jakarta, Pemprov DKI Jakarta, dan kementerian dalam menangani masalah sampah dari sumbernya. Jakarta Utara telah ditetapkan sebagai wilayah pilot project untuk road map Pengelolaan Sampah di Indonesia.

Optimasi Pengelolaan Sampah di Rusunawa Rorotan

Edy menyatakan, “Di Rusunawa Rorotan terdapat empat tower dengan jumlah keluarga sekitar 300 hingga 400 KK. Dengan kapasitas pengolahan biodigester yang mencapai 1,2 ton per hari, fasilitas ini diharapkan dapat mengelola sampah organik dari limbah dapur warga secara optimal.”

Ia juga menegaskan, perubahan pola pemilahan sampah di masyarakat terus menunjukkan perbaikan signifikan berkat adanya fasilitas pengolahan lokal. “Melalui kolaborasi dan penyediaan fasilitas seperti biodigester ini, tingkat pemilahan sampah rumah tangga warga di lokasi percontohan telah meningkat dari sebelumnya hanya 5 persen menjadi hampir 90 persen,” ungkap Edy.

Manfaat Jangka Panjang bagi Masyarakat

Keberadaan fasilitas pengolahan sampah biodigister di Rusunawa Rorotan memberikan banyak manfaat kepada masyarakat. Selain membantu mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir, pengolahan ini juga menghasilkan sumber energi yang dapat digunakan oleh penghuni rusun.

Manfaat lain dari program ini meliputi:

  • Pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
  • Peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah.
  • Pengembangan urban farming melalui produksi pupuk organik.
  • Kontribusi terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca di DKI Jakarta.
  • Perbaikan kualitas lingkungan hidup di kawasan padat penduduk.

Inisiatif ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga melibatkan peran serta masyarakat dan perusahaan dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Mendorong Partisipasi Masyarakat

Partisipasi masyarakat sangat penting dalam keberhasilan program pengolahan sampah biodigister ini. Edukasi tentang cara pemilahan sampah yang baik dan benar, serta pentingnya pengelolaan limbah organik harus terus digalakkan.

Dengan adanya fasilitas yang mendukung, masyarakat diharapkan bisa lebih aktif dalam mengelola sampah yang dihasilkan, sehingga dapat menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Program ini juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia untuk melakukan hal yang serupa.

Keberhasilan pengolahan sampah biodigister di Jakarta Utara diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk mengembangkan sistem yang serupa, sehingga pengelolaan sampah menjadi lebih efisien dan berkelanjutan di seluruh Indonesia.

➡️ Baca Juga: Medcom Goes to School 2026: Kolaborasi Antara Media dan Pemerintah dalam Membentuk Generasi Tangguh

➡️ Baca Juga: Pertemuan Haru Denada dan Ressa di Hari Lebaran: Kini Tak Lagi Memanggil ‘Mbak

Related Articles

Back to top button