ROMA — Paus Leo XIV, dalam pernyataan tegasnya pada hari Sabtu (11/4), mengkritik keras apa yang ia sebut sebagai “delusi omnipoten” yang berkontribusi pada ketegangan yang memicu perang antara Amerika Serikat dan Iran. Ia mendesak para pemimpin politik untuk menghentikan konflik yang berkepanjangan dan beralih ke meja perundingan demi perdamaian.
Seruan Perdamaian di Tengah Ketegangan Global
Dalam kesempatan tersebut, Paus Leo memimpin kebaktian doa malam di Basilika Santo Petrus, bersamaan dengan dimulainya negosiasi langsung antara Amerika Serikat dan Iran di Pakistan, di mana gencatan senjata yang rapuh masih berlangsung. Melalui kebaktian ini, Paus berharap untuk menyoroti pentingnya dialog dan rekonsiliasi di tengah ketegangan yang meningkat.
Pesan Tersirat untuk Pemimpin Dunia
Paus Leo, yang merupakan Paus pertama yang lahir di Amerika Serikat, tidak secara eksplisit menyebut nama Amerika Serikat atau Presiden Donald Trump dalam doanya. Namun, pesan yang disampaikannya tampaknya ditujukan kepada Trump dan pejabat tinggi AS lainnya, yang dianggap telah mengklaim superioritas militer negara mereka serta menggunakan alasan keagamaan untuk membenarkan tindakan agresif.
Menolak Penyembahan Diri dan Pameran Kekuasaan
“Cukup sudah penyembahan diri dan uang!” tegas Leo. “Cukup sudah pameran kekuasaan! Cukup sudah perang!” Pernyataan tersebut mencerminkan kekecewaannya terhadap ketidakadilan yang terjadi di dunia saat ini. Dalam suasana kebaktian, Uskup Agung Teheran, Kardinal Dominique Joseph Mathieu dari Belgia, hadir, bersama perwakilan korps diplomatik AS, Laura Hochla, yang menunjukkan bahwa isu ini melampaui batas negara.
Kritik yang Meningkat Terhadap Kekerasan
Di bulan-bulan awal perang, Paus Leo menunjukkan kehati-hatian dalam mengutuk kekerasan secara terbuka, lebih memilih untuk menyerukan perdamaian melalui dialog yang lembut. Namun, seiring berjalannya waktu, kritiknya semakin tajam, terutama setelah pernyataan yang menyebutkan ancaman Trump untuk memusnahkan peradaban Iran sebagai “benar-benar tidak dapat diterima.” Paus Leo menekankan pentingnya dialog sebagai solusi utama.
Panggilan untuk Doa dan Perdamaian
Pada hari Sabtu itu, Paus mengajak semua individu yang memiliki niat baik untuk bersatu dalam doa demi perdamaian dan untuk menuntut agar para pemimpin politik mereka menghentikan perang. Kebaktian doa malam di Roma ini, yang mencakup pembacaan Kitab Suci serta doa Rosario yang meditatif, diadakan bersamaan dengan rangkaian doa lokal di Amerika Serikat dan negara-negara lain.
Memutus Siklus Kejahatan
Paus Leo menegaskan bahwa berdoa untuk perdamaian adalah langkah penting untuk “memutus siklus kejahatan yang terus berlanjut” dan membangun Kerajaan Allah yang bebas dari senjata, drone, atau “keuntungan yang tidak adil.” Dalam pandangannya, tindakan tersebut merupakan fondasi untuk menciptakan dunia yang lebih baik.
Melawan Ilusi Kemahakuasaan
“Di sinilah kita menemukan benteng melawan ilusi kemahakuasaan yang mengelilingi kita dan semakin agresif,” ungkapnya. Ia mengingatkan bahwa bahkan nama Allah yang suci, sebagai Tuhan kehidupan, sering kali diseret ke dalam wacana yang berkaitan dengan kematian dan kekerasan.
Penyalahgunaan Agama dalam Perang
Menurut Paus Leo, banyak pemimpin yang telah menggunakan agama sebagai justifikasi untuk tindakan agresif mereka dalam perang. Dalam hal ini, pejabat AS, terutama Menteri Pertahanan Pete Hegseth, sering kali menggunakan iman Kristen untuk menggambarkan negara mereka sebagai negara yang berjuang melawan musuh-musuhnya.
Klarifikasi Posisi Tuhan dalam Perang
Paus Leo menekankan bahwa Tuhan tidak pernah memberkati perang dalam bentuk apapun, terutama tidak mendukung mereka yang menjatuhkan bom. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa dalam konflik yang terjadi, nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas sering kali terabaikan.
Ritual Kebaktian yang Khidmat
Selama ibadah tersebut, Paus Leo memimpin dengan duduk di sisi altar, mengenakan jubah formal berwarna merah dan stola liturgi, sambil memegang Rosario di tangannya. Banyak pastor dan biarawati di gereja juga turut memegang untaian Rosario saat doa “Bapa Kami” dan “Salam Maria” dibacakan, menciptakan suasana khidmat yang mendalam.
Kekhawatiran Vatikan atas Situasi di Timur Tengah
Pihak Vatikan menunjukkan keprihatinan yang mendalam mengenai dampak dari perang antara Israel dan Hizbullah di Lebanon, terutama terkait dengan penderitaan yang dialami oleh komunitas Kristen di wilayah selatan. Ketegangan yang terus berlanjut ini menjadi perhatian utama dalam upaya untuk mencapai stabilitas dan perdamaian di kawasan tersebut.
➡️ Baca Juga: Video Viral Alexander Assad Bawa Diduga Senjata Api, Kenapa Clara Shinta Menghapusnya?
➡️ Baca Juga: Hodak Yakin Herdman Akan Berhasil di Laga Pertama Bersama Timnas Indonesia
