Produk Lokal Siap Saingi Brand Internasional, Kemenperin Dorong IKM Fesyen dan Kriya Go Global

Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengambil langkah strategis untuk meningkatkan pemahaman bisnis di kalangan pelaku industri kecil dan menengah (IKM) yang berfokus pada sektor kriya dan fesyen. Hal ini dilakukan agar mereka dapat memanfaatkan peluang di pasar global, terutama di tengah perubahan perilaku konsumen yang semakin dinamis.

Perubahan Pasar dan Strategi Bisnis

Perilaku konsumen saat ini tidak hanya mengubah cara berbelanja, tetapi juga menciptakan ekspektasi baru terhadap nilai produk. Menghadapi situasi ini, Kemenperin berkomitmen untuk membekali para IKM di sektor kriya dan fesyen dengan pengetahuan mengenai strategi bisnis yang sesuai dan relevan.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan pentingnya pelaku industri untuk membaca dinamika nilai produk secara lebih cermat. “Inovasi yang muncul dari desainer, perajin, dan produsen harus mampu menjawab kebutuhan pasar yang terus berkembang,” ujarnya saat konferensi di Jakarta.

Potensi Produk Lokal

Menperin mengakui bahwa perajin dan desainer Indonesia sudah memiliki kreativitas, inovasi, dan keterampilan yang cukup untuk menghasilkan produk berkualitas tinggi. Namun, untuk memperkuat keunggulan ini, diperlukan strategi bisnis yang tepat serta riset pasar yang mendalam.

“Produk fesyen dan kriya kita sebenarnya sudah setara dengan produk internasional dan bisa lebih unggul. Yang diperlukan adalah strategi yang tepat untuk membawa bisnis IKM ke level yang lebih tinggi,” tegasnya.

Peluang Ekspor yang Menjanjikan

Sektor fesyen dan kriya di Indonesia menunjukkan kinerja ekspor yang menggembirakan. Diproyeksikan bahwa nilai ekspor pada tahun 2025 akan mencapai USD806,63 juta, dengan pertumbuhan sebesar 15,46 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan Literasi Bisnis melalui Program Kreatif

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menjelaskan bahwa Ditjen IKMA secara rutin mengadakan program untuk meningkatkan literasi bisnis. Salah satu program tersebut adalah Creative Talk yang diinisiasi oleh Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) di Bali.

Dalam acara Creative Talk pertama yang berjudul “Merancang Nilai Produk Sesuai dengan Kebutuhan Pasar,” yang berlangsung pada 16 April 2026 di Auditorium BPIFK, berbagai pihak termasuk akademisi, praktisi, komunitas, dan pelaku IKM berkumpul untuk membahas cara-cara merancang produk yang memiliki nilai tambah tinggi.

“Inisiatif ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di IKM agar lebih memahami pasar dan mampu menciptakan produk yang memiliki nilai tambah. Literasi bisnis dan strategi desain yang kuat sangat penting agar produk IKM tidak hanya unggul dari segi estetika, tetapi juga kompetitif di pasar,” ujar Reni.

Tantangan di Sektor Fesyen dan Kriya

Reni juga menyampaikan bahwa meskipun potensi ekonomi untuk sektor fesyen dan kriya Indonesia sangat besar, ada tantangan yang harus dihadapi. Banyak IKM yang belum konsisten dalam memproduksi barang yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Oleh karena itu, Kemenperin merancang program pembinaan berkelanjutan yang mencakup workshop dan bimbingan teknis untuk meningkatkan daya saing.

Value Proposition Design dalam Bisnis Fesyen

Dalam sesi Creative Talk, I Made Surya Prayoga menjelaskan tentang konsep Value Proposition Design. Ia menyoroti bahwa banyak pelaku usaha masih terjebak dalam menjelaskan fitur produk, bukan manfaat yang nyata bagi pelanggan.

“Contohnya dalam industri fesyen, yang seharusnya dijual bukan hanya pakaian murah, tetapi pakaian kerja yang nyaman dan tetap stylish untuk profesional muda,” ungkapnya.

Keselarasan Kreativitas dan Kebutuhan Pasar

Kepala BPIFK Dickie Sulistya Aprilyanto menambahkan bahwa riset menunjukkan banyak kegagalan bisnis disebabkan oleh produk yang tidak sesuai dengan kebutuhan pasar. Artinya, keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh kemampuan produksi semata.

“Perajin harus mampu menyelaraskan kreativitas mereka dengan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh pelanggan,” tutupnya.

➡️ Baca Juga: Rekrutmen Akpol 2026 Hanya Melalui Jalur Reguler Sesuai Ketentuan Polri

➡️ Baca Juga: Kenaikan Tarif Tol Semarang-Batang Hampir 30 Persen Efektif Mulai 7 Maret 2026

Exit mobile version