Rupiah Melemah, Tapi Masih Lebih Tahan Dibanding Mata Uang Asia
— Paragraf 1 —
Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa depresiasi atau pelemahan nilai tukar rupiah, yang terjadi sejak Perang AS-Israel dan Iran meletus, masih lebih baik dibandingkan mata uang negara-negara lain.
— Paragraf 2 —
Ia mengatakan, rupiah terdepresiasi secara moderat, sejalan dengan penguatan dolar AS secara global, dan relatif lebih baik dibandingkan banyak peer countries (negara-negara sejawat).
— Paragraf 3 —
“Rupiah terdepresiasi sebesar 0,3 persen (month-to-date/mtd,sejak perang dimulai hingga hari ini), jauh lebih baik dengan mata uang negara-negara di sekeliling kita,” kata Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta, Rabu (11/3).
— Paragraf 4 —
Ia menyebutkan, Ringgit Malaysia terdepresiasi sebesar 0,5 persen mtd dan Baht Thailand turun sebesar 1,6 persen mtd.
— Paragraf 5 —
Selain itu, Peso Filipina juga tercatat mengalami depresiasi sebesar 1,4 persen mtd. Sedangkan Dolar Singapura memiliki nilai depresiasi yang sama seperti rupiah, yakni 0,3 persen mtd.
— Paragraf 6 —
“Ini mencerminkan ketahanan eksternal Indonesia serta koordinasi fiskal-moneter yang kuat,” ujarnya.
— Paragraf 7 —
Purbaya menuturkan, banyak masyarakat yang menyampaikan kritik pada dirinya melalui media sosial terkait pelemahan rupiah tersebut.
— Paragraf 8 —
Ia pun meminta publik untuk menilai secara adil dan memahami bagaimana posisi rupiah yang sesungguhnya dibandingkan dengan mata uang lainnya.
— Paragraf 9 —
“(Rupiah) kita masih oke, artinya kita masih dianggap menjaga kebijakan fisikal dan moneter yang baik dan fondasi ekonomi kita cukup baik,” ucapnya.
— Paragraf 10 —
Ia berharap kinerja fundamental ekonomi Indonesia yang terjaga positif tersebut akan terus mendorong penguatan pasar modal domestik, terutama pada investasi saham.
— Paragraf 11 —
“Kalau ekonominya, fundamentalnya baik terus, otomatis pelan-pelan saham akan naik lagi ke level yang lebih baik dari sekarang,” tuturnya.
— Paragraf 12 —
Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Rabu, bergerak menguat 12 poin atau 0,07 persen menjadi Rp16.851 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.863 per dolar AS.
— Paragraf 13 —
Analis mata uang dari Doo Financial Futures Lukman Leong saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Rabu mengatakan, penguatan rupiah terjadi seiring penurunan harga minyak yang cukup signifikan.
— Paragraf 14 —
Namun, ia juga menyampaikan bahwa perang yang masih berlangsung akan terus membebani rupiah. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, nilai tukar rupiah diprediksi berada pada kisaran Rp16.800-Rp16.950 per dolar AS.
➡️ Baca Juga: Update Terkini Daftar Harga Semen Maret 2026: Mulai Dari Harga Rp50 Ribuan
➡️ Baca Juga: Menopause dan Nyeri Sendi: 5 Penyebab Utama yang Perlu Anda Ketahui



