Industri Baja Perlu Proteksi, Bahan Baku Mamin Harus Terjangkau Menurut Menperin Sarmuji

Dalam konteks persaingan global yang semakin ketat, sektor industri baja di Indonesia menghadapi tantangan serius yang dapat mengancam keberlanjutan dan daya saingnya. Menteri Perindustrian, Muhammad Sarmuji, menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen untuk memperkuat posisi industri manufaktur nasional. Salah satu cara untuk mencapainya adalah dengan memastikan ketersediaan bahan baku yang terjangkau dan memberikan perlindungan terhadap sektor-sektor strategis dari dampak tekanan produk impor.
Komitmen Pemerintah Terhadap Industri Baja
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Sarmuji setelah melakukan audiensi dengan Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) dan Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) di Jakarta pada Rabu, 14 Oktober. Sarmuji mengungkap bahwa aspirasi dari pelaku industri makanan dan minuman serta industri baja sangat diperhatikan oleh kementeriannya.
“Kami menerima berbagai masukan dari pelaku industri terkait. Kementerian Perindustrian berkomitmen untuk memberikan dukungan agar industri nasional dapat berdaya saing, termasuk mencari solusi atas berbagai tantangan yang mereka hadapi,” ujar Sarmuji.
Pentingnya Proteksi untuk Sektor Strategis
Menyinggung tentang industri baja, Sarmuji menekankan bahwa perlindungan terhadap sektor ini adalah suatu keharusan. Menurutnya, industri baja memiliki posisi strategis dalam perekonomian nasional, sehingga perlu adanya langkah-langkah protektif.
“Untuk industri strategis seperti baja, kami percaya bahwa perlindungan harus dilakukan, baik melalui instrumen tarif maupun nontarif. Namun, perlindungan ini saja tidak cukup. Kami juga harus berupaya meningkatkan daya saing industri agar lebih tangguh dalam menghadapi persaingan global,” tegasnya.
Menangani Utilisasi Baja yang Rendah
Sarmuji mencatat bahwa saat ini rendahnya tingkat utilisasi industri baja nasional menjadi salah satu isu utama. Menurut data terakhir, utilisasi produksi baja di Indonesia berkisar antara 43 hingga 57 persen. Di sisi lain, impor baja hingga Agustus 2026 telah mencapai angka 7 juta ton, yang jelas menambah beban bagi industri lokal.
“Saat ini, industri baja nasional sedang menghadapi tekanan besar dari produk impor, yang tidak hanya datang dari Tiongkok, tetapi juga negara lain. Kelebihan produksi baja global mencapai sekitar 640 juta ton, dengan kontribusi dari Tiongkok sekitar 120 juta ton,” jelas Willgo Zainar, Ketua IISIA.
Volume Produksi dan Tantangan Impor
Ismail Mandry, Wakil Ketua IISIA, juga menambahkan bahwa asosiasi tersebut memiliki 189 anggota yang secara kolektif mampu memproduksi baja hingga 18 juta ton per tahun. Namun, proyeksi menunjukkan bahwa impor baja untuk periode 2024-2025 bisa mencapai sekitar 8 juta ton per tahun.
- Jumlah produksi baja domestik mencapai 18 juta ton.
- Impor baja diperkirakan 8 juta ton per tahun untuk 2024-2025.
- Utilisasi baja saat ini hanya berkisar 43-57 persen.
- Kelebihan produksi baja global mencapai 640 juta ton.
- 120 juta ton dari kelebihan tersebut berasal dari Tiongkok.
“Kami berharap agar impor baja dapat dikelola dengan baik, terutama untuk produk yang sudah bisa diproduksi di dalam negeri. Kami bukan antiimpor, namun penting untuk memastikan adanya keseimbangan agar industri nasional dapat terus berkembang dan bersaing,” jelas Ismail.
Kendala Energi dan Kebijakan Gas
Selain tantangan dari sisi impor, IISIA juga menyoroti isu terkait implementasi kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Saat ini, industri baja hanya mampu memanfaatkan sekitar 60 persen dari kuota gas yang tersedia, yang mengakibatkan ketidakefisienan dalam proses produksi.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Setia Diarta, merespons keluhan tersebut dengan menyatakan bahwa pemerintah akan bekerja sama dengan kementerian dan lembaga terkait untuk menangani isu-isu yang dihadapi oleh industri baja.
“Kami berkomitmen untuk mencari solusi terhadap beragam permasalahan yang telah disampaikan oleh asosiasi. Dengan kerja sama ini, kami berharap industri baja nasional dapat menjadi lebih kompetitif,” ungkap Setia.
Strategi Peningkatan Daya Saing
Peningkatan daya saing industri baja menjadi fokus utama Kementerian Perindustrian. Dalam era globalisasi ini, industri harus mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan pasar dan tuntutan konsumen. Oleh karena itu, langkah-langkah strategis perlu diambil untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi.
Beberapa langkah yang dapat diambil meliputi:
- Peningkatan inovasi dalam proses produksi.
- Penerapan teknologi terbaru untuk efisiensi energi.
- Pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia.
- Kolaborasi dengan lembaga riset dan universitas untuk penelitian dan pengembangan.
- Diversifikasi produk untuk memenuhi permintaan pasar yang beragam.
Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut, diharapkan industri baja dapat bersaing tidak hanya di pasar domestik, tetapi juga di pasar internasional. Perlindungan dan dukungan dari pemerintah menjadi sangat penting untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi pertumbuhan industri ini.
Menghadapi Tantangan di Masa Depan
Menjelang masa depan, industri baja di Indonesia harus siap menghadapi berbagai tantangan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Dengan adanya kelebihan produksi global, produk-produk dari luar negeri dapat masuk dengan harga yang lebih kompetitif, sehingga industri lokal perlu mempersiapkan diri dengan baik.
Selain itu, perubahan kebijakan pemerintah dan dinamika pasar harus terus dipantau. Kementerian Perindustrian berperan penting dalam menciptakan kebijakan yang mendukung pertumbuhan industri, sembari tetap menjaga keseimbangan antara proteksi dan daya saing.
Dengan komitmen dan kerja sama yang kuat antara pemerintah dan pelaku industri, diharapkan industri baja Indonesia dapat bertransformasi menjadi lebih kuat dan mampu beradaptasi dengan tantangan masa depan. Melalui perlindungan yang tepat dan peningkatan daya saing yang berkelanjutan, industri ini akan mampu memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian nasional.
➡️ Baca Juga: Prabowo Resmikan Pagar Gajah Way Kambas untuk Selesaikan Konflik Manusia dan Gajah
➡️ Baca Juga: Persija vs Persib di GBK: Polresta Karawang Siapkan Pasukan dan Imbau Bobotoh Tak ke Jakarta



