NASA dan ESA Berkolaborasi untuk Menghilangkan Mikroorganisme di Luar ISS

Pada Selasa, 2 September, astronot NASA, Jessica Meir, dan rekannya dari Badan Antariksa Eropa (ESA), Sophie Adenot, berhasil menyelesaikan misi luar angkasa yang berlangsung di sekitar Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Misi ini bukan hanya sekadar eksplorasi, tetapi juga melibatkan penelitian ilmiah dan pemeliharaan stasiun yang berfungsi sebagai laboratorium luar angkasa. Fokus utama dari misi tersebut adalah untuk mengidentifikasi dan menghilangkan mikroorganisme di luar ISS, yang dapat mengganggu operasional dan keamanan misi luar angkasa di masa mendatang.
Detail Misi Luar Angkasa
Penerbangan luar angkasa dimulai pada pukul 08:40 pagi Waktu Bagian Timur. Selama hampir 7 jam, Meir dan Adenot melakukan serangkaian tugas penting. Salah satu kegiatan utama mereka adalah pemasangan retroflector baru di bagian depan modul Harmony. Alat ini dirancang untuk mendukung navigasi pesawat ruang angkasa saat melakukan operasi rendezvous dan docking, yang sangat penting untuk keberhasilan misi luar angkasa.
Selain itu, kedua astronot juga mengganti kamera berdefinisi tinggi yang terpasang di rangka stasiun. Aktivitas ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kualitas pengambilan gambar, tetapi juga untuk mendukung penelitian lebih lanjut terkait mikroorganisme di luar ISS.
Pemantauan Mikroorganisme
Salah satu aspek menarik dari misi ini adalah pengumpulan sampel usap dari permukaan luar ISS. Proses ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan mikroorganisme yang mungkin dapat memengaruhi stasiun antariksa dan kesehatan para astronot di dalamnya. Identifikasi mikroorganisme di luar ISS menjadi penting karena dapat memberikan wawasan tentang bagaimana organisme ini dapat berkembang di lingkungan luar angkasa yang ekstrem.
- Mikroorganisme dapat memengaruhi sistem kelistrikan ISS.
- Penelitian tentang mikroorganisme membantu memahami kemungkinan risiko kesehatan bagi astronot.
- Pengumpulan sampel memberikan data untuk penelitian biologi luar angkasa.
- Identifikasi mikroorganisme dapat berkontribusi pada desain sistem pencegahan kontaminasi di masa depan.
- Mikroorganisme dapat menjadi indikator bagi keberadaan kehidupan di luar Bumi.
Pemeliharaan dan Pembangunan ISS
Dalam misi ini, Meir dan Adenot juga menyelesaikan sebagian dari pekerjaan pemasangan kabel jumper untuk sistem kelistrikan. Tugas ini sangat penting untuk memastikan bahwa semua sistem di ISS berfungsi dengan baik. Mereka juga mempersiapkan penggantian radiator pembuang panas untuk Spektrometer Magnetik Alfa, sebuah alat penelitian penting yang akan digunakan dalam spacewalk di waktu mendatang.
Tantangan di Luar Angkasa
Selama misi, Adenot mengalami masalah dalam pergerakan lengan kirinya. Meir dengan sigap memeriksa pakaian luar angkasa Adenot dan menemukan bahwa rangkaian kabel pemanas di sarung tangannya kemungkinan terjepit, yang mengakibatkan terbatasnya pergerakan di sendi bahu kiri. Dengan membuka ritsleting pada bagian tersebut, mereka berhasil mengatasi masalah sebelum kembali ke ruang kunci udara (airlock).
Statistik Spacewalk
Misi luar angkasa ini merupakan spacewalk ketujuh bagi Jessica Meir dan yang ketiga bagi Sophie Adenot. Total spacewalk yang telah dilakukan untuk mendukung perakitan, pemeliharaan, dan peningkatan ISS kini mencapai angka 284. Ini menunjukkan betapa pentingnya kolaborasi internasional dalam eksplorasi luar angkasa dan penelitian ilmiah.
Kerja sama antara NASA dan ESA dalam misi ini tidak hanya mencerminkan kemajuan teknologi, tetapi juga komitmen bersama untuk menjaga lingkungan luar angkasa yang bersih dan aman. Dengan mengidentifikasi dan menghilangkan mikroorganisme di luar ISS, kedua badan antariksa tersebut berusaha untuk memastikan keberlangsungan misi luar angkasa di masa depan. Ini adalah langkah penting dalam menjaga keselamatan astronot dan keberhasilan misi ilmiah yang lebih besar.
Peran Mikroorganisme dalam Lingkungan Luar Angkasa
Mikroorganisme di luar ISS dapat memberikan informasi berharga tentang bagaimana kehidupan dapat bertahan di luar Bumi. Penelitian ini juga berpotensi mengungkapkan bagaimana organisme ini beradaptasi dengan kondisi ekstrem yang ada di luar angkasa. Beberapa poin penting terkait mikroorganisme di luar ISS meliputi:
- Kemampuan adaptasi mikroorganisme dalam kondisi tanpa atmosfer.
- Interaksi mikroorganisme dengan material yang digunakan dalam pembangunan ISS.
- Pentingnya penelitian mikrobiologi dalam konteks misi luar angkasa jangka panjang.
- Potensi mikroorganisme sebagai sumber daya untuk misi di planet lain.
- Implikasi kesehatan bagi astronot yang terpapar mikroorganisme di luar angkasa.
Dengan terus melakukan penelitian dan pengamatan terhadap mikroorganisme di luar ISS, kita tidak hanya dapat meningkatkan pemahaman kita tentang kehidupan di luar Bumi, tetapi juga mempersiapkan diri untuk misi-misi yang lebih jauh ke luar angkasa. Kerja sama antara NASA dan ESA dalam proyek ini menunjukkan bahwa kolaborasi internasional adalah kunci untuk menghadapi tantangan yang ada di luar angkasa.
Kesimpulan
Melalui misi ini, NASA dan ESA tidak hanya berfokus pada eksplorasi luar angkasa, tetapi juga pada pemeliharaan dan perawatan lingkungan luar angkasa yang berkelanjutan. Kegiatan yang dilakukan oleh Jessica Meir dan Sophie Adenot dalam mengidentifikasi dan mengatasi masalah yang berkaitan dengan mikroorganisme di luar ISS merupakan langkah penting menuju eksplorasi luar angkasa yang lebih aman dan efisien di masa mendatang.
➡️ Baca Juga: Inggris Dikalahkan Jepang, Tuchel Menegaskan Ini Bukan Akhir dari Seg segalanya
➡️ Baca Juga: Dua Rudal Iran Targetkan Kapal Perang AS di Selat Hormuz, Apa Dampaknya?




