Puluhan Hektar Sawah di Jambi Mengering, Petani Hadapi Risiko Gagal Panen

Kemarau yang berkepanjangan kini menjadi ancaman nyata bagi sektor pertanian di Jambi, terutama bagi para petani padi. Dengan minimnya pasokan air, risiko tanaman padi mengalami kekeringan meningkat, yang berujung pada kemungkinan gagal panen atau puso. Situasi ini tidak hanya merugikan produktivitas beras, tetapi juga memberikan beban tambahan yang signifikan bagi petani yang terpaksa mengandalkan pompa dan sumber air alternatif untuk menyelamatkan tanaman mereka.
Dampak Kemarau Terhadap Pertanian Padi di Jambi
Menurut Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Provinsi Jambi, sebanyak 53 hektare lahan padi mengalami gagal panen akibat kemarau yang terjadi dalam dua bulan terakhir. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya kondisi yang dihadapi oleh para petani di wilayah ini.
“Data terbesar dari gagal panen itu tercatat di Kabupaten Batang Hari, khususnya di Kecamatan Bathin XXIV, dengan luasan mencapai 11,5 hektare,” ungkap Darmawansyah, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPTD-BPTPH) Dinas TPHP Provinsi Jambi, pada Kamis (10/9).
Penyebab Gagal Panen: Perubahan Iklim dan Fenomena El Niño
Darmawansyah menjelaskan bahwa fenomena gagal panen yang terjadi tidak lepas dari dampak kekeringan yang disebabkan oleh perubahan iklim. Selain itu, fenomena El Niño yang melanda wilayah Jambi turut memperburuk kondisi lahan pertanian.
Berdasarkan laporan yang diterima, dari total luas lahan padi sawah seluas 7.659,73 ha pada masa tanam kali ini, 1.851,18 ha mengalami kerusakan ringan, 1.313,18 ha mengalami kerusakan sedang, 559,47 ha rusak berat, dan 53 ha lainnya dinyatakan gagal panen.
Analisis Kerusakan Lahan Padi berdasarkan Wilayah
Kondisi kerusakan lahan padi di Jambi sangat bervariasi antar kabupaten/kota. Di Kota Sungai Penuh, dari luas tanam 464 ha, tercatat 60 ha mengalami kerusakan ringan, dan dua ha mengalami kerusakan sedang.
Di Kabupaten Tebo, dari luas tanam 458,75 ha, 167,75 ha mengalami kerusakan ringan, 115,5 ha rusak sedang, 57,50 ha rusak berat, dan 16,75 ha mengalami puso. Situasi ini menunjukkan dampak kemarau yang cukup signifikan di daerah tersebut.
Data Kerusakan Lahan di Kabupaten Sarolangun dan Batang Hari
Berlanjut ke Kabupaten Sarolangun, dari total luas tanam 986,75 ha, 274,75 ha mengalami kerusakan ringan, 195,75 ha rusak sedang, 70 ha rusak berat, dan satu ha mengalami gagal panen. Sementara itu, di Kabupaten Batang Hari, dengan luas tanam mencapai 3.039,30 ha, 418,50 ha mengalami kerusakan ringan, 679,90 ha rusak sedang, 99,40 ha rusak berat, dan 23,25 ha dinyatakan puso.
Kerusakan Lahan di Muaro Jambi dan Kota Jambi
Di Kabupaten Muaro Jambi, dari 1.375,27 ha lahan padi, 518,30 ha tercatat mengalami kerusakan ringan, 154,50 ha rusak sedang, 317,54 ha rusak berat, dan 10 ha mengalami gagal panen. Sementara di Kota Jambi, dari luas tanam sebesar 141,25 ha, 75,36 ha mengalami kerusakan ringan, 18,53 ha rusak sedang, empat ha rusak berat, dan dua ha mengalami puso.
Data Kerusakan di Kabupaten Kerinci dan Tanjung Jabung Barat
Di Kabupaten Kerinci, dari 533,50 ha luas tanam, 70,50 ha mengalami kerusakan ringan dan 24 ha mengalami kerusakan sedang. Di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, dari luas tanam 92 ha, 30 ha mengalami kerusakan ringan, 51 ha rusak sedang, dan 11 ha mengalami rusak berat.
Pentingnya Penanganan Krisis Air untuk Pertanian
Situasi ini menuntut perhatian serius dari pemerintah dan seluruh pihak terkait untuk segera mengambil langkah-langkah mitigasi. Pengelolaan sumber daya air yang lebih baik dan pengembangan infrastruktur irigasi yang efisien menjadi kunci untuk mengatasi masalah ini. Hal ini tidak hanya untuk menjaga keberlangsungan produksi padi, tetapi juga untuk memastikan kesejahteraan petani yang bergantung pada hasil pertanian.
- Mengoptimalkan penggunaan pompa air dan sumber daya alternatif.
- Mengembangkan infrastruktur irigasi yang lebih baik.
- Melakukan sosialisasi dan pelatihan kepada petani tentang pengelolaan air.
- Memperhatikan dampak perubahan iklim dalam perencanaan pertanian.
- Melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan terkait pengelolaan sumber daya air.
Dengan tindakan yang tepat, diharapkan kondisi pertanian di Jambi dapat pulih dan beradaptasi dengan perubahan iklim yang semakin ekstrem. Kerjasama antara pemerintah dan petani harus diperkuat untuk mencapai keberhasilan dalam menjaga ketahanan pangan di daerah ini.
➡️ Baca Juga: BMKG Ramalkan Potensi Hujan di Beberapa Wilayah Indonesia pada Hari Senin
➡️ Baca Juga: Inggris Siapkan Kapal dan Drone Pemburu Ranjau untuk Amankan Selat Hormuz




