Bantuan Kemenpar untuk Warga Korban Kebakaran Desa Adat Sade Melalui Poltekpar Lombok

Jakarta – Kementerian Pariwisata, yang dipimpin oleh Menteri Widiyanti Putri Wardhana, menunjukkan kepedulian mendalam terhadap tragedi kebakaran yang menimpa Kampung Adat Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, pada malam hari, 22 Agustus. Kejadian ini menimbulkan rasa prihatin yang mendalam, terutama mengingat pentingnya kampung adat ini tidak hanya bagi masyarakat lokal, tetapi juga bagi pariwisata Indonesia.
Keprihatinan Terhadap Korban Kebakaran
Menteri Widiyanti menyatakan rasa syukur karena tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Namun, dampak dari kebakaran ini sangat signifikan, dengan ratusan rumah terpengaruh dan kerusakan yang masih dalam proses pendataan oleh pemerintah daerah. Situasi ini tentu memerlukan perhatian dan langkah cepat dalam penanganan.
“Kami mengungkapkan rasa prihatin yang mendalam bagi seluruh masyarakat Kampung Adat Sade yang terdampak. Yang paling krusial saat ini adalah memastikan bahwa warga dalam kondisi aman dan kebutuhan dasar mereka dapat segera dipenuhi,” ujar Menteri Pariwisata, menggarisbawahi pentingnya respons cepat dalam situasi darurat semacam ini.
Koordinasi dengan Pemerintah Daerah
Sejak awal peristiwa, Kementerian Pariwisata telah berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Tujuannya adalah untuk memantau perkembangan situasi dan mengidentifikasi dukungan yang bisa segera diberikan kepada masyarakat yang terkena dampak.
Menteri Widiyanti juga telah memberikan instruksi kepada Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok untuk terlibat langsung dalam penanganan di lapangan. Ini menunjukkan keseriusan Kementerian dalam memberikan bantuan yang diperlukan.
Peran Poltekpar Lombok dalam Penanganan
Poltekpar Lombok diharapkan segera membuka dapur umum untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat yang terdampak kebakaran, serta menyiapkan bantuan lainnya sesuai dengan kebutuhan di lapangan. “Saya sudah meminta Poltekpar Lombok untuk bergerak dan memberikan dukungan yang dibutuhkan masyarakat, termasuk dalam menyiapkan dapur umum. Pelaksanaannya akan dilakukan secara terkoordinasi dengan menunggu arahan dari Forkopimda Kabupaten Lombok Tengah agar bantuan yang diberikan tepat sasaran dan tidak tumpang tindih,” tambah Menpar Widiyanti.
Langkah-Langkah Penanganan Darurat
Pemerintah daerah, bersama TNI, Polri, BPBD, dan Damkar, telah melakukan berbagai langkah penting, termasuk evakuasi, pemadaman api, serta penyediaan tempat sementara untuk masyarakat terdampak. Selain itu, pembersihan material sisa kebakaran juga dilakukan. Pemerintah Provinsi NTB menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar warga, seperti sandang, pangan, rasa aman, dan kelangsungan pendidikan anak-anak, menjadi prioritas utama dalam masa tanggap darurat ini.
Kepentingan Budaya dan Pariwisata
Menteri Widiyanti menekankan bahwa perhatian Kementerian Pariwisata terhadap Sade tidak hanya karena kawasan tersebut adalah salah satu destinasi wisata unggulan di Lombok. Kampung Adat Sade merupakan simbol budaya masyarakat Sasak yang mempertahankan tradisi, arsitektur, kerajinan, dan tata kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.
Keunikan dan kekayaan budaya ini menjadikan Sade sebagai salah satu ikon wisata budaya di Nusa Tenggara Barat dan Indonesia. “Sade bukan sekadar destinasi wisata. Sade adalah rumah bagi masyarakat, ruang hidup budaya Sasak, dan bagian penting dari kekayaan pariwisata Indonesia. Oleh karena itu, duka yang dialami masyarakat Sade juga merupakan duka kita semua,” tegas Menteri.
Proses Pemulihan Pasca Kebakaran
Setelah tahap penanganan darurat selesai, Kementerian Pariwisata siap untuk bekerja sama dengan pemerintah daerah serta kementerian dan lembaga terkait dalam proses pemulihan sektor pariwisata di Kampung Adat Sade. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat adat Desa Sade berkomitmen untuk segera merekonstruksi kawasan ini setelah mengalami kebakaran yang parah.
Menurut Menteri Widiyanti, proses pemulihan ini harus melibatkan masyarakat Sade sebagai bagian utama, dengan tetap memperhatikan nilai budaya, kearifan lokal, dan keaslian arsitektur tradisional Sasak yang telah menjadi identitas kawasan tersebut. “Prioritas kita saat ini adalah masyarakat. Setelah kondisi darurat tertangani, kita akan bersama-sama merencanakan pemulihan. Kami ingin Sade bangkit kembali tanpa kehilangan jati dirinya sebagai ruang hidup dan warisan budaya masyarakat Sasak,” jelasnya.
Komitmen Berkelanjutan untuk Kebangkitan Sade
Melalui komitmen ini, Kementerian Pariwisata ingin memastikan bahwa pelaksanaan pemulihan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mencakup aspek sosial dan budaya. Dengan demikian, masyarakat Sade dapat kembali menjalani kehidupan sehari-hari mereka dengan semangat yang baru dan lebih kuat.
- Penguatan infrastruktur dasar untuk mendukung kehidupan masyarakat.
- Pelatihan dan pengembangan keterampilan bagi masyarakat untuk mendukung ekonomi lokal.
- Penyediaan akses pendidikan dan kesehatan untuk anak-anak dan keluarga.
- Promosi wisata budaya yang berkelanjutan untuk menarik wisatawan kembali.
- Kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat proses pemulihan.
Dengan semua langkah tersebut, diharapkan Kampung Adat Sade dapat segera bangkit dari keterpurukan dan melanjutkan perannya sebagai bagian integral dari warisan budaya Indonesia yang kaya. Kementerian Pariwisata berkomitmen untuk terus memberikan dukungan dan memastikan bahwa kebangkitan Sade dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan nilai-nilai budaya yang ada.
➡️ Baca Juga: Cara Efektif Cuci Gorden untuk Hasil Bersih dan Perawatan yang Tahan Lama
➡️ Baca Juga: Rupiah Melemah 2,19 Persen di 2026, Ancaman Pembengkakan Beban Fiskal Makin Nyata




