Kawah Ijen Karhutla Menurun, Hot Spot Masih Terdeteksi di Gunung Papak

Banyuwangi, yang terkenal dengan pesona alamnya, kini menghadapi tantangan serius akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Kawah Ijen. Meskipun kebakaran mulai mereda, keberadaan titik api masih terdeteksi, terutama di lokasi-lokasi yang sulit dijangkau, seperti Gunung Papak. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi kebakaran yang lebih besar, sehingga upaya pemadaman terus dilakukan dengan serius.
Upaya Pemadaman Kebakaran di Kawah Ijen
Hingga Selasa (8/9), tim pemadam kebakaran masih melanjutkan operasi pemadaman dengan menggunakan metode water bombing dari udara. Sementara itu, tim di darat melakukan mopping up atau penyisiran untuk memastikan bahwa tidak ada bara api yang tersisa dan dapat menimbulkan kebakaran kembali.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyatakan bahwa berdasarkan pengamatan dari udara, masih terdapat beberapa titik api yang mengeluarkan asap. Asap-asap ini berpotensi memicu munculnya api baru, sehingga perhatian dan penanganan yang cepat sangat dibutuhkan.
Observasi dari Udara
Ipuk menekankan, “Dari pemantauan udara, memang ada beberapa titik api yang terdeteksi, terutama di daerah yang sulit dijangkau. Beberapa lokasi tersebut masih mengeluarkan asap dan menunjukkan adanya risiko kebakaran baru.” Pernyataan ini disampaikan setelah melakukan pemantauan langsung dari helikopter.
Dalam upaya pemadaman, helikopter melakukan water bombing rata-rata sebanyak 30 kali setiap harinya. Setiap kali penyiraman, sekitar 1.000 liter air diambil dari embung PT Medco yang berada di kawasan Kawah Ijen.
Strategi Pemadaman yang Terpadu
“Helikopter masih melakukan water bombing di titik-titik yang terindikasi mengeluarkan asap. Selain itu, mopping up juga dilakukan untuk menyisir lokasi-lokasi yang berpotensi menghangat kembali,” ujar Ipuk. Ia juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama berdoa agar kebakaran dapat diatasi dengan cepat, sehingga tidak semakin meluas, terutama di lahan kering yang ada di Kawah Ijen.
Sejak Minggu (6/9/2026), tim gabungan telah melakukan mopping up, terutama di jalur pendakian. Kegiatan ini bertujuan untuk memeriksa dan memadamkan sisa-sisa bara api yang mungkin masih ada di area yang sebelumnya terkena kebakaran.
Kerjasama Tim Pemadam Kebakaran
Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) 5 Banyuwangi, Noviyani Utami, menambahkan bahwa mereka mendapatkan bantuan dari tim Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Balai Dalkarhut Jabalnusra) untuk mopping up di kawasan Ijen.
“Kami juga mendapatkan dukungan dari BKO dari Balai Dalkarhut Jabalnusra untuk memastikan bahwa bara api tidak menyala kembali. Selain itu, mereka juga membantu dalam pemetaan luas area yang terbakar dan pembersihan jalur pendakian,” terang Novi.
Pemantauan Titik Panas dan Pembersihan Jalur Pendakian
Tim gabungan, termasuk relawan, terus melakukan pemantauan terhadap titik panas (hotspot) di kawasan Ijen. Pembersihan jalur pendakian dilaksanakan bersamaan dengan pemantauan ini, untuk mendukung rencana pembukaan kembali Kawah Ijen.
“Kami juga dibantu oleh para relawan dalam upaya pembersihan jalur pendakian, dengan harapan Kawah Ijen bisa segera dibuka kembali untuk pengunjung,” tambah Novi.
Risiko Kebakaran di Kawah Ijen
Kawasan Kawah Ijen, yang terkenal dengan keindahan alam dan fenomena blue fire-nya, kini berada dalam situasi yang genting. Karhutla yang terjadi tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada kehidupan masyarakat sekitar yang bergantung pada pariwisata. Langkah-langkah pemadaman yang dilakukan harus diperkuat dengan kerjasama berbagai pihak.
- Melibatkan tim gabungan dari berbagai instansi.
- Penggunaan teknologi pemadaman modern seperti water bombing.
- Melakukan pemantauan secara rutin terhadap titik-titik api.
- Pembersihan jalur pendakian untuk mencegah risiko lebih lanjut.
- Memberdayakan relawan dalam proses pemadaman dan pembersihan.
Peran Komunitas dan Relawan
Partisipasi masyarakat dan relawan sangat penting dalam menangani masalah kebakaran hutan. Kesadaran dan tindakan kolektif dapat mempercepat proses pemulihan kawasan yang terdampak. Dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, sangat diperlukan untuk menjaga kelestarian Kawah Ijen.
Relawan yang terlibat dalam proses pemadaman dan pembersihan jalur pendakian menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dan keberlangsungan ekosistem sangat tinggi. Mereka bekerja tanpa pamrih demi menyelamatkan kawasan yang menjadi ikon pariwisata di Banyuwangi ini.
Melihat Masa Depan Kawah Ijen
Dengan upaya yang sedang dilakukan, harapan untuk pemulihan kawasan Kawah Ijen masih ada. Pentingnya menjaga kelestarian alam menjadi tanggung jawab bersama. Masyarakat diharapkan dapat lebih proaktif dalam menjaga lingkungan dan menghindari tindakan yang dapat memicu kebakaran.
Melalui edukasi dan kesadaran, diharapkan kesadaran akan pentingnya menjaga kawasan hutan dan lahan dapat meningkat. Kawah Ijen bukan hanya sekadar tempat wisata, tetapi juga merupakan bagian penting dari ekosistem yang harus dilestarikan.
Dengan demikian, melalui kerjasama yang solid antara pemerintah, relawan, dan masyarakat, Kawah Ijen diharapkan dapat kembali pulih dan berfungsi sebagai salah satu tujuan wisata yang aman dan nyaman untuk dikunjungi.
➡️ Baca Juga: Batas Terakhir Waktu Puasa Syawal 2026 yang Harus Anda Ketahui Segera
➡️ Baca Juga: Tips Perawatan Mobil Hybrid, Masih Perlu Dipanaskan atau Tidak?




