slot depo 10k slot depo 10k
Nasional

Menekraf: Aplikasi Digital sebagai Penggerak Utama Aktivitas dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Di era digital saat ini, aplikasi digital telah menjadi elemen yang tak terpisahkan dari rutinitas sehari-hari masyarakat Indonesia. Dari bekerja hingga berbelanja, aplikasi mengubah cara kita berinteraksi dan bertransaksi. Dalam konteks ini, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menggarisbawahi pentingnya aplikasi digital sebagai penggerak utama dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Melalui sambutannya di Indonesia Application Summit (InApps) 2026, ia menekankan bahwa industri aplikasi bukan hanya sekadar teknologi, melainkan fondasi masa depan ekonomi digital tanah air.

Pentingnya Aplikasi Digital dalam Kehidupan Sehari-hari

Teuku Riefky menekankan bahwa aplikasi digital telah merambah ke berbagai aspek kehidupan, mulai dari pekerjaan dan pendidikan hingga hiburan dan kewirausahaan. Hal ini menunjukkan bahwa aplikasi digital bukan hanya alat, tetapi juga menjadi bagian integral dari keberlangsungan hidup masyarakat modern.

Ia menyatakan, “Kita bekerja melalui aplikasi, belajar melalui aplikasi, bertransaksi, menikmati hiburan, bahkan membangun usaha melalui aplikasi.” Ini mencerminkan bagaimana aplikasi menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai aktivitas dalam kehidupan sehari-hari.

Industri Aplikasi sebagai Pilar Ekonomi Digital

Dalam pandangannya, industri aplikasi tidak hanya berhubungan dengan kemajuan teknologi, tetapi juga berperan penting dalam membentuk masa depan ekonomi digital Indonesia. “Ketika kita berbicara tentang industri aplikasi, sebenarnya kita membicarakan masa depan ekonomi digital yang lebih luas,” ujarnya.

Dengan demikian, pengembangan sektor aplikasi digital perlu didorong untuk memastikan bahwa Indonesia dapat bersaing di tingkat global. Hal ini juga sejalan dengan visi pemerintah untuk menciptakan ekosistem digital yang sehat dan berkelanjutan.

Peluang yang Dihadirkan oleh Kecerdasan Buatan

Teuku Riefky menyoroti bahwa kemajuan dalam bidang kecerdasan buatan (AI) membuka peluang yang lebih besar bagi industri aplikasi di tanah air. Namun, dia menekankan bahwa kemajuan ini harus diimbangi dengan penerapan etika yang baik dan tata kelola yang tepat. Dalam hal ini, penting untuk memastikan bahwa teknologi digunakan untuk kebaikan dan tidak membahayakan masyarakat.

Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) 2026-2045

Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan ekonomi kreatif sebagai salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kebijakan ini dituangkan dalam Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) 2026-2045 yang melibatkan sekitar 24 kementerian dan lembaga. Tujuannya adalah untuk memperkuat pengembangan ekonomi kreatif di seluruh negeri dan memberikan dukungan kepada pemerintah daerah.

Rindekraf mencakup 21 subsektor ekonomi kreatif, yang mencakup berbagai bidang, mulai dari kebudayaan, desain, teknologi digital, hingga media. Dari 21 subsektor tersebut, ada tujuh subsektor yang menjadi prioritas, termasuk subsektor aplikasi. Ini menunjukkan fokus pemerintah dalam mendorong sektor-sektor yang memiliki potensi besar untuk pertumbuhan ekonomi.

Peningkatan Jumlah Subsektor Ekonomi Kreatif

Teuku Riefky menjelaskan bahwa jumlah subsektor dalam ekonomi kreatif meningkat dari 17 menjadi 21. Penambahan subsektor ini mencerminkan bagaimana perkembangan teknologi digital memengaruhi lanskap ekonomi. Beberapa subsektor baru yang muncul berkaitan dengan inovasi teknologi, seperti teknologi baru, konten digital, dan pengisi suara.

Subsektor Teknologi Baru dan Potensinya

Subsektor teknologi baru mencakup berbagai kegiatan ekonomi kreatif yang memanfaatkan kecerdasan buatan, blockchain, Internet of Things, teknologi Web3, big data, dan keamanan siber. “Kami telah menciptakan subsektor tersendiri untuk ini dan juga telah membentuk direktorat khusus,” ungkapnya.

Dengan adanya subsektor ini, pemerintah berharap dapat mendorong inovasi dan pengembangan yang lebih lanjut dalam bidang teknologi, sehingga Indonesia dapat bersaing di pasar global.

Investasi yang Masuk ke Sektor Ekonomi Kreatif

Perkembangan sektor ekonomi kreatif terlihat dari besarnya investasi yang masuk. Pada tahun 2025, nilai investasi di sektor ini diperkirakan mencapai sekitar Rp180 triliun, dengan subsektor aplikasi menjadi salah satu kontributor terbesar, yaitu sekitar Rp54,23 triliun. Ini menunjukkan bahwa sektor aplikasi digital memiliki potensi yang sangat besar untuk pertumbuhan ekonomi nasional.

Kontribusi Ekonomi Kreatif terhadap PDB

Saat ini, kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia mencapai sekitar 7,38 persen. Angka ini mencerminkan betapa pentingnya sektor ini dalam menyokong pertumbuhan ekonomi nasional.

Dengan kontribusi yang signifikan, sektor ekonomi kreatif, khususnya aplikasi digital, harus terus didorong untuk berkembang dan berinovasi. Ini merupakan tugas bersama antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat.

Keterlibatan Generasi Muda dan Perempuan

Teuku Riefky juga menyoroti peran penting generasi muda dan perempuan dalam sektor ekonomi kreatif. Data menunjukkan bahwa sekitar 63 persen tenaga kerja di sektor ini berasal dari generasi Z dan milenial, sementara 58 persen di antaranya adalah perempuan. Ini menunjukkan bahwa sektor ekonomi kreatif telah memberikan peluang yang lebih luas bagi semua kalangan, terutama bagi perempuan dan generasi muda.

Kesimpulan

Dengan demikian, aplikasi digital merupakan salah satu pilar utama dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Melalui pengembangan yang berkelanjutan dan perhatian terhadap etika serta tata kelola, sektor ini diharapkan dapat menjadi penggerak utama yang mendorong inovasi dan pertumbuhan ekonomi di masa depan.

➡️ Baca Juga: Pemerintah Rancang Strategi Penghematan Energi, Sektor Publik Akan Terpengaruh

➡️ Baca Juga: Dampak Abu Vulkanik Anak Krakatau, Bupati Lampung Selatan Terapkan KBM Daring untuk Siswa

Related Articles

Back to top button