slot depo 10k slot depo 10k
Luar Negeri

NASA Ungkap Karhutla di Indonesia Melalui Citra Satelit, Kebakaran Meluas di Kalimantan

Dalam beberapa tahun terakhir, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia telah menarik perhatian internasional, terutama dari lembaga penelitian dan antariksa. Salah satu yang paling aktif dalam memantau fenomena ini adalah National Aeronautics and Space Administration (NASA) Amerika Serikat. Dengan menggunakan teknologi canggih, NASA mampu melihat dan menganalisis dampak kebakaran melalui citra satelit, yang menunjukkan sebaran titik api dan kepulan asap di berbagai daerah, termasuk di Kalimantan.

Pemantauan Karhutla Melalui Citra Satelit

Pada tanggal 1 September, NASA Earth Observatory merilis laporan yang menampilkan citra satelit Aqua, yang mendokumentasikan situasi terkini kebakaran di Kalimantan. Citra tersebut menggambarkan kepulan asap berwarna abu-abu yang berasal dari beberapa lokasi kebakaran, terutama yang terletak di bagian selatan pulau tersebut.

Teknologi yang Digunakan

Dalam analisisnya, NASA memanfaatkan instrumen MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) yang terpasang pada satelit Aqua. Alat ini dirancang untuk mendeteksi anomali panas yang menunjukkan adanya kebakaran. Titik-titik merah yang terlihat dalam citra menunjukkan lokasi di mana api terdeteksi.

  • MODIS berfungsi untuk mengidentifikasi titik panas dengan akurasi tinggi.
  • Citra satelit memberikan gambaran luas mengenai sebaran kebakaran.
  • Data dari NASA membantu dalam perencanaan penanggulangan karhutla.
  • Penggunaan teknologi satelit meningkatkan respons cepat terhadap kebakaran.
  • Pemantauan berkelanjutan membantu memahami pola kebakaran dari tahun ke tahun.

Tantangan Penanganan Karhutla di Lahan Gambut

NASA juga menyoroti tantangan yang dihadapi dalam penanganan karhutla, terutama terkait dengan lahan gambut di Indonesia. Diperkirakan bahwa Indonesia memiliki sekitar 36 persen dari total lahan gambut tropis di dunia, yang menjadi salah satu elemen krusial dalam pengembangan strategi mitigasi kebakaran.

Risiko Kebakaran pada Lahan Gambut

Ketika lahan gambut mengalami kekeringan, lapisan yang biasanya basah dapat terbakar hingga ke bagian bawah permukaan. Kebakaran yang terjadi di bawah tanah ini seringkali sulit untuk dipadamkan dan dapat berlangsung lama meskipun api di permukaan tidak terlihat.

“Ketika kebakaran menjalar ke bawah tanah, api tidak akan padam dengan sendirinya. Api akan terus membakar sampai ada hujan yang cukup,” ungkap Robert Field, seorang peneliti dari Columbia University yang berkontribusi pada pengembangan Global Fire Weather Database, sebagaimana dikutip oleh NASA.

Musim Kebakaran dan Dampaknya

NASA mencatat bahwa Indonesia baru memasuki musim kebakaran pada awal September, dan dalam waktu singkat, aktivitas kebakaran telah meningkat secara signifikan. Peningkatan ini terjadi bersamaan dengan kondisi kekeringan yang meluas dan pengaruh fenomena El Niño.

Kondisi Meteorologi yang Membantu Karhutla

Berdasarkan data yang diambil dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sekitar 90 persen wilayah Indonesia mengalami sedikit atau bahkan tidak ada hujan pada awal Agustus 2026. Kondisi kering ini jelas meningkatkan risiko terjadinya kebakaran, terutama di kawasan gambut yang ada di Kalimantan dan Sumatra.

Field juga menekankan bahwa pola aktivitas kebakaran saat ini mulai menyerupai yang terjadi pada tahun 2015. Peningkatan aktivitas kebakaran di tahun 2026 ini mengingatkan kita akan salah satu musim kebakaran paling parah yang pernah dialami Indonesia dalam beberapa dekade terakhir.

Perbandingan dengan Kebakaran Tahun 2015

➡️ Baca Juga: Serah Terima Aset Perumahan kepada Pemerintah Masih Rendah, Simak Videonya

➡️ Baca Juga: Kementerian Ketenagakerjaan Selenggarakan Pelatihan Vokasi Nasional 2026 untuk Peningkatan Keterampilan

Related Articles

Back to top button