Legislator Tegaskan Hilirisasi Kopi Tidak Akan Berhasil Jika Bahan Baku dan Kemasan Impor

Jakarta – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, menegaskan bahwa upaya hilirisasi kopi di Indonesia belum akan mencapai keberhasilan yang diinginkan selagi ketergantungan terhadap bahan baku dan kemasan yang diimpor tetap tinggi. Dalam pernyataannya, ia mengungkapkan perlunya langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan ini agar industri kopi nasional mampu bersaing secara global dan memberikan nilai tambah yang signifikan.
Contoh Keberhasilan: PT Santos Jaya Abadi
Evita mengemukakan pandangannya saat melakukan kunjungan ke fasilitas produksi PT Santos Jaya Abadi, yang dikenal sebagai produsen kopi Kapal Api, di Semarang pada tanggal 4 September. Dalam kunjungan tersebut, ia mengapresiasi keberhasilan perusahaan ini yang telah menguasai sekitar 60% pasar kopi domestik dan melakukan ekspansi ke pasar internasional, termasuk dengan mendirikan pabrik di Jeddah, Arab Saudi. Ini menunjukkan bahwa industri kopi memiliki potensi yang besar untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
Ketimpangan di Sisi Hulu dan Hilir
Namun, Evita juga menyoroti adanya ketimpangan yang signifikan antara sektor hilir dan hulu. Meskipun industri pengolahan kopi di Indonesia sudah berkembang dengan baik, sisi hulu, terutama dalam penyediaan bahan baku dan pendukung, masih sangat bergantung pada impor. Salah satu contohnya adalah kebutuhan akan gula rafinasi, di mana manajemen PT Santos Jaya Abadi telah berupaya untuk mendapatkan izin mendirikan pabrik gula rafinasi sendiri.
“Jika kita berbicara tentang hilirisasi yang komprehensif, kita harus memastikan bahwa kita tidak lagi mengandalkan impor untuk bahan baku,” tegas Evita, yang juga merupakan legislator dari daerah pemilihan Jawa Tengah III.
Dukungan Kebijakan untuk Pengembangan Bahan Baku Domestik
Evita menambahkan bahwa dukungan kebijakan dari pemerintah sangat penting untuk mendorong perusahaan yang berkomitmen dalam membangun industri bahan baku di dalam negeri. “Jangan sampai kita berbicara tentang hilirisasi, tetapi bahan baku yang diperlukan masih harus diimpor. Ini adalah area yang perlu kita perbaiki,” ujarnya.
Material Pendukung dari Impor
Masalah ketergantungan tidak hanya terbatas pada bahan baku utama, tetapi juga meliputi material pendukung seperti bahan kemasan berbasis plastik yang masih diimpor. Hal ini mencerminkan bahwa penguatan industri hilir perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir, agar dapat menciptakan ekosistem yang mandiri dan berkelanjutan.
Praktik Ekspor yang Perlu Diperbaiki
Evita juga mengangkat isu praktik ekspor kopi dalam bentuk green bean atau biji mentah. Ia menilai bahwa ini merupakan tantangan besar yang harus dihadapi. “Ke depan, kita ingin mengekspor produk yang sudah melalui proses pengolahan di dalam negeri, dengan memanfaatkan bahan baku yang dihasilkan oleh petani lokal,” ungkapnya.
Standar Produksi yang Tinggi
Evita memberikan apresiasi terhadap standar produksi yang diterapkan oleh PT Santos Jaya Abadi, yang dinilai bersih, higienis, dan telah memanfaatkan teknologi pengolahan yang baik. Kapasitas produksi ini menunjukkan bahwa industri makanan dan minuman di Indonesia mampu menghasilkan produk dengan standar tinggi yang dapat bersaing di tingkat internasional.
Kolaborasi antara DPR dan Kementerian Perindustrian
Dalam langkah ke depan, Komisi VII DPR RI berencana untuk membawa isu rantai pasok ini dalam pembahasan bersama Kementerian Perindustrian. Evita mendorong agar kebijakan yang dihasilkan dapat memberikan ruang yang lebih besar untuk penguatan bahan baku domestik.
Hilirisasi Kopi: Lebih dari Sekadar Pengemasan
Evita menekankan bahwa hilirisasi kopi tidak hanya sebatas mengubah biji kopi menjadi produk kemasan. “Ukuran keberhasilan hilirisasi adalah seberapa besar nilai tambah yang dapat kita ciptakan dan seberapa banyak bahan baku yang dapat kita hasilkan di dalam negeri,” jelasnya. Harapannya, ekspor kopi Indonesia di masa depan tidak lagi berupa barang mentah, tetapi telah melalui proses pengolahan yang maksimal di dalam negeri.
- Ketergantungan terhadap bahan baku impor harus diminimalkan.
- Industri pengolahan kopi perlu didukung oleh kebijakan pemerintah.
- Pentingnya pengembangan pabrik bahan baku lokal.
- Standar produksi yang tinggi dapat meningkatkan daya saing.
- Hilirisasi harus mencakup seluruh rantai pasok kopi.
Berdasarkan pernyataan dan analisis yang disampaikan oleh Evita Nursanty, jelas bahwa hilirisasi kopi di Indonesia menghadapi tantangan besar, terutama dalam hal ketergantungan terhadap bahan baku dan kemasan yang diimpor. Untuk mencapai keberhasilan yang diinginkan, diperlukan sinergi antara berbagai pemangku kepentingan, baik dari sektor pemerintahan maupun industri, untuk menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan dan pengembangan industri kopi nasional.
➡️ Baca Juga: Matikan Perangkat Ini Agar Tagihan Listrik Tidak Membengkak Setiap Bulan
➡️ Baca Juga: Dukung Target Sampah Nasional 2029, ADUPI, IDCTA, dan ESGIN Kembangkan Infrastruktur Digital Daur Ulang




