Apa itu reseller? Mengenal jenis-jenis sistem jual beli dalam perdagangan

Posted on

Apa itu reseller? Bagi anda yang telah lama berkecipung dalam dunia bisnis, maka istilah istilah bisnis dan jual beli mungkin terasa sangat familira. Anda yang mempunyai bisnis kecil kecilan pasti sudah hafal dengan sistem utang, piutang, laba kotor, laba bersih hingga jenis jenis sistem jual beli yang biasanya dibayar kontan (cash) atau dalam sistem kredit.

Selain dua sistem di atas, terdapat jenis sistem jual beli yang juga mulai marak dikenal di indonesia. Sistem jual beli ini dikenal dengan sistem reseller dan dropship. Lalu apa perbedaan reseller dan dropship dalam kacamata bisnis? Pengertian utama reseller sendiri diambil dari kata aslinya yang diserap dari bahasa inggris ke dalam kosakata umum bahasa indonesia, yaitu re=kembali, seller=menjual. Jadi pengertian reseller secara umum adalah menjual barang kembali.

Lalu bagaimana dengan dropship? Sama dengan reseller, dropship diambil dari arti kata aslinya yang diserap dari bahasa inggris yaitu drop=menurunkan, ship=kapal. Lalu apa maksudnya? Apa perbedaan dropship dan reseller secara mendasar?

Maksud dari kata menurunkan dari kapal, bisa dimaknai bahwa menurunkan muatan dari kapal, jika anda mengangkut muatan barang dan menyewa kapal untuk mendistribusikan barang. Apakah anda perlu mempunyai kapal dahulu? Atau anda mempunyai barang dahulu?

Kenyataannya tidak. Anda bisa menjualkan barang dari orang lain tanpa membeli kapal dahulu dan tanpa memiliki barang dahulu kan? Nah ini yang dinamakan dropship. Menggunakan kapal dan muatan orang lain untuk mendapatkan keuntungan. Perbedaan utama antara reseller dan dropship terletak pada posisi barang. Jika reseller harus (seringkali) memegang barang yang dijual. Sementara dropship tidak perlu memegang barang yang dijual.

Contoh paling mudah memahami perbedaan reseller dan dropship adalah dengan melihat marketplace seperti bukapalan dan tokopedia. Pernahkah anda melihat opsi barang yang anda pesan bisa ditulis sebagai dropshipper? Nah, opsi ini diperuntukkan bagi anda yang mengirim barang kepada orang lain (dengan seolah olah anda menjadi penjualnya), padahal barang yang anda jual dikirim oleh penjual dari tokopedia atau bukalapak.

Baca Juga:  4 Mesin Pencari Selain Google Paling Banyak Digunakan

Biasanya dropshipper yang menggunakan tokopedia dan bukalapak sudah sering menawarkan barang secara offline (tatap muka), contoh bisnis ini bisa dianalogikan seperti ini: Jono bertemu dengan Rini menawarkan barang yang pernah dilihatnya di tokopedia yaitu sedotan stainless steel. Rini tertarik untuk membeli dan membayar sejumlah uang kepada Jono untuk membeli sedotan stainless stell.

Sementara itu, Jono kemudian membeli sedotan stainless stell melalui tokopedia, shopee atau bukalapak kepada toko online dan mengirimkannnya ke Rini. Nah, posisi Jono ini disebut sebagai dropshipper atau pengirim barang yang merangkap sebagai penjual bayangan. Contoh ini tidak hanya diterapkan di dunia marketplace tetapi juga bisnis konvensional.

Sama persis ketika anda menjualkan barang milik om, tante atau saudara tetapi barangnya belum anda pegang, anda hanya menawarkan katalog, membagikan foto-foto barang atau produk di media sosial. Baru ketika ada pelanggan yang tertarik dengan barang barang yang anda posting dan bersedia membayar harganya. Anda baru mengontak om, tante atau saudara anda untuk mengirimkan barang tersebut kepada si pembeli. Nah, ini dinamakan dengan dropshipper.

Sampai disini paham ya perbedaan reseller dan dropship? Selanjutnya kita akan membahas lebih lengkap mengenai reseller itu sendiri. Seperti sudah dijelaslkan di atas bahwa pengertian reseller adalah re=kembali seller=menjual. Jadi anda berperan menjual kembali barang yang telah anda beli, atau barang yang telah anda dapatkan dari distributor.

Apakah reseller bisa menjual barang yang belum dibeli? Bisa, tetapi kebanyakan distributor meminta reseller untuk membeli beberapa stok dahulu atau menargetkan mendapat beberapa konsumen terlebih dahulu. Karena jika menjual barang tanpa produk akan disebut dengan dropship.

Perbedaan dropship dan reseller juga terletak pada sistem kontrak jual beli, jika dropship bebas, maka reseller akan mengikuti aturan main yang diterapkan oleh produsen atau distributor. Misal begini, ada sebuah merek baju bernama “doraemon”, merek baju ini sedang booming di pasaran dan hanya dijual dalam sistem penjualan tertutup melalui reseller.

Baca Juga:  Menjajal Kursus Web Master Serpong

Produsen akan memberi setiap reseller jatah baju selama beberapa bulan dalam jumlah yang banyak, semisal satu reseller diberi 500 buah baju dan harus menghabiskan dalam kurang waktu tiga bulan. Beberapa reseller akan mendaat jatah baju 500 jika sudah membayar deposit ke produsen/distributor untuk memberikan jaminan kepercayaan.

Sementara produsen/distributor akan memberi harga yang lebih murah dari harga jual kepada reseller. Jadi jika satu baju dijual 100.000, maka harga jual produsen ke reseller hanya 50.000 atau 60.000. jadi reseller bisa mendapat untung maksimal 40.000.

Apakah reseller bisa menjual lebih mahal? Pada kebanyakan kasus bisnis tidak bisa, sistem reseller amat sangat ketat soal harga tertinggi, harga terendah dan dijual dalam sistem penjuaan tertutup untuk mengontrol kualitas penjualan baju. Pada titik inilah sistem reseller biasanya memiliki sistem yang terkontrol dan jauh lebih baik ketimbang dropship.

Dropship sendiri juga bisa meniru reseller dimana setiap barang yang dijual setiap dropshipper bisa dikenakan potongan harga untuk memperoleh komisi atau keuntungan. Akan tetapi sistem dropship tidaklah seperti reseller yang amat ketat. Karena rantai distribusi sistem reseller diawasi ketat untuk memastikan barang dikontrol sesuai dengan penjualanya.

Sementara pengertian dropship sendiri lebih kepada menjualkan barang kepada orang lain tanpa kita harus memegang barang itu sendiri. Jadi dropship bisa dikatakan bisnis yang benar-benar modal dengkul, karena tidak perlu modal uang sama sekali hanya menawarkan barang orang lain. Sementara reseller, dalam kebanyakan kasus bisnis, membutuhkan modal di awal.

Perbedaan antara reseller dan dropship secara mendasar juga memberikan keuntungan dan kerugian negatif yang berbeda-beda. Pertama, reseller secara keuntungan akan lebih terjamin karena sudah dialokasikan oleh produsen atau distributor berapa keuntungan yang harus diambil. Reseller tidak bisa memark-up keuntungan sesuai keinginannya.

Baca Juga:  Kursus Motion Graphic Serpong Paling Direkomendasikan

Sementara dropship lebih kepada kebebasan untuk mengambil keuntungan yang wajar dan sesuai dengan harga pasar. Dropship sendiri bahkan bisa menentukan harga jual barang pertama dengan kedua berbeda karena proses “siapa yang bayar dulu bisa dapat murah”.

Kedua, sistem reseller amat ketat untuk urusan promosi, biasanya ditangani oleh produsen atau distributor, jadi sistem ketat ini memudahkan reseller untuk berjualan tanpa harus promosi, karena tinggal menggunakan katalog yang diberikan oleh produsen atau distributor.

Sementara dropship belum tentu ada promosi, karena tidak setiap produsen atau distributor barang dalam dropship mau dan mempunyai sistem promosi. Tetapi kelebihannya kita bisa bebas berpromosi dan mendapat banyak konsumen tanpa harus ditegur oleh produsen dan distributor.

Perbedaan dropship dan reseller sebenarnya memberi keuntungan masing masing pada jenis bisnis yang berbeda. Untuk produk-produk dengan merek merek mahal biasanya sangat ketat untuk mengontrol penjualan dan membutuhkan sistem reseller sementara untuk produk bebas biasanya akan lebih mudah dijual dalam bentuk dropship.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *